Banyuwangi, Jawa Timur, ruangenergi.com — Menjelang arus mudik Idul Fitri 1447 Hijriah yang beririsan dengan Hari Raya Nyepi di Bali, pemerintah memperkuat kesiapan transportasi penyeberangan dan pasokan energi di lintas strategis Ketapang–Gilimanuk. Kepala BPH Migas Wahyudi Anas memastikan operasional kapal serta distribusi BBM berada dalam kondisi aman untuk melayani lonjakan mobilitas masyarakat.
Dalam peninjauan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Sabtu (14/3/2026), Wahyudi mengatakan operator penyeberangan telah menyiapkan 55 kapal untuk melayani jalur Ketapang–Gilimanuk selama periode mudik dan libur Nyepi.
Artinya, masih terdapat 23 kapal cadangan yang siap dioperasikan sewaktu-waktu untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan dan penumpang pada puncak arus mudik.
Menurut dia, kepadatan arus penyeberangan dari Bali menuju Jawa Timur sudah mulai terasa sejak 13 Maret dan diperkirakan mencapai puncaknya hingga 17 Maret. Situasi ini dipengaruhi oleh penutupan sementara pelabuhan Ketapang–Gilimanuk saat Hari Raya Nyepi di Bali.
Pelabuhan tersebut dijadwalkan ditutup mulai 18 Maret pukul 00.00 hingga 20 Maret pukul 06.00 WITA. Karena itu, operator pelabuhan telah menyiapkan sejumlah skenario antisipasi, termasuk lahan parkir tambahan untuk menampung kendaraan yang menunggu jadwal penyeberangan.
“Langkah ini penting agar tidak terjadi penumpukan kendaraan di sekitar pelabuhan, yang bisa mengganggu arus lalu lintas maupun distribusi logistik,” ujarnya.
Selain kesiapan armada kapal, BPH Migas juga memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) untuk operasional kapal penyeberangan dan kebutuhan masyarakat di kawasan Ketapang, Banyuwangi.
Wahyudi menyebut stok BBM yang dikelola Pertamina Patra Niaga dalam kondisi penuh dan sangat aman. Distribusi dilakukan secara rutin dengan empat kali pengiriman per hari atau sekitar 16 ribu liter, dengan dukungan mobil tangki tambahan yang bersiaga 24 jam.
“Kalau kebutuhan meningkat, Pertamina sudah menyiapkan tambahan mobil tangki agar tidak terjadi gangguan pelayanan,” kata dia.
Secara umum, kebutuhan BBM selama periode mudik diperkirakan naik 4–6 persen, sejalan dengan meningkatnya kendaraan yang menyeberang serta frekuensi perjalanan kapal.
Namun menariknya, konsumsi biosolar justru diprediksi menurun sekitar 3–4 persen. Penurunan ini dipengaruhi kebijakan pembatasan operasional kendaraan angkutan barang roda enam ke atas pada periode H-7 hingga H+7 Lebaran, serta berkurangnya aktivitas industri selama libur panjang.
“Dengan kondisi tersebut, secara keseluruhan stok BBM justru lebih dari cukup. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” ujarnya.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk mengatur waktu perjalanan agar tidak terjadi penumpukan kendaraan di area pelabuhan.
Menurut Wahyudi, pengelola pelabuhan telah menyiapkan berbagai fasilitas pendukung seperti area parkir penyangga, pengaturan antrian, serta pengamanan yang melibatkan kepolisian setempat.
“Kami minta masyarakat datang sesuai jadwal penyeberangan. Jangan terlalu cepat datang ke pelabuhan karena fasilitas di sini memang untuk operasional penyeberangan, bukan untuk menginap,” kata dia.
Dengan koordinasi lintas instansi dan kesiapan armada serta energi, pemerintah optimistis arus mudik Lebaran 2026 di jalur Selat Bali dapat berlangsung lancar, meski harus menyesuaikan dengan penutupan pelabuhan saat perayaan Nyepi.


