Dari Sekolah Lapang ke Panen Raya: Transformasi Petani Kayowa Bersama Pertamina EP Donggi Matindok Field

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Banggai, Sulteng, ruangenergi.com– Tekad untuk berubah dan belajar telah membawa para petani Desa Kayowa, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, pada sebuah capaian penting. Pada Sabtu, 15 November 2025, mereka merayakan panen raya jagung seluas satu hektare yang menjadi bukti nyata keberhasilan uji coba pupuk biosulfur—program pendampingan yang digagas PT Pertamina EP Donggi Matindok Field (DMF) bersama Kelompok Tani Mosa’angu. Dari lahan percontohan itu, para petani berhasil menghasilkan 3,6 ton jagung, angka yang menunjukkan efektivitas pemanfaatan pupuk biosulfur dalam meningkatkan produktivitas lahan.

Keberhasilan ini tidak hadir begitu saja. Sejak awal 2025, para petani rutin mengikuti Sekolah Lapang Tudang Sipulung, sebuah forum pembelajaran berbasis musyawarah lokal yang diselenggarakan sebulan sekali.

Sekolah lapang menjadi ruang berbagi pengetahuan antarpetani dan penyuluh, memperkuat solidaritas kelompok, sekaligus mendorong perubahan pola pikir menuju pertanian yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Panen raya tersebut dihadiri oleh Pjs Manager Donggi Matindok Field, Sidik Asngari, jajaran manajemen DMF, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Banggai, Pemerintah Desa Kayowa, serta masyarakat setempat.

Kepala Desa Kayowa, Mohammad Ali Daeng Maroa, mengungkapkan kebanggaannya atas capaian warganya.

“Petani Kayowa telah membuktikan bahwa kemauan untuk belajar dan berinovasi membawa hasil nyata. Keberhasilan ini menjadi langkah awal bagi desa untuk semakin kuat dalam ketahanan pangan,” ujarnya.

Sementara itu, Sidik Asngari menekankan pentingnya kolaborasi sebagai energi utama pembangunan masyarakat.

“Panen ini bukan hanya hasil produksi, tetapi gambaran semangat kolaboratif antara perusahaan, pemerintah, dan petani. Dengan pendampingan konsisten, Kayowa berpeluang menjadi sentra jagung unggulan di Sulawesi,” ungkapnya.

Pertamina EP Donggi Matindok Field terus menjalankan program pengembangan masyarakat yang berfokus pada peningkatan kualitas pertanian melalui pemanfaatan pupuk biosulfur, selaras dengan prinsip ESG (Environment, Social, and Governance). Program ini tidak hanya menargetkan peningkatan hasil panen, tetapi juga memastikan bahwa praktik pertanian dilakukan secara bijak dan ramah lingkungan.

Pemerintah desa pun menegaskan komitmennya.

“Kami akan terus hadir, memfasilitasi dan membina agar petani semakin mandiri dan kreatif dalam mengembangkan pertanian,” kata Mohammad Ali.

Panen jagung pakan ini menjadi momentum penting yang memperkuat hubungan antara perusahaan dan masyarakat. Lebih dari sekadar hasil produksi, panen ini mengirim pesan kuat bahwa investasi pada manusia dan pengetahuan mampu menggerakkan perubahan besar di sektor pertanian desa.

Ke depan, keberhasilan ini diharapkan dapat: meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat ketahanan pangan wilayah, menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk mengembangkan pertanian lokal secara berkelanjutan.

Desa Kayowa kini bergerak dari sekadar lahan percobaan, menuju desa yang memanen perubahan.