Bali, ruangenergi.com-Industri hulu migas Indonesia kembali mencatat sejarah gemilang. Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, mengumumkan breaking news yang mengejutkan: Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Mubadala Energy sukses menandatangani Head of Agreement (HOA) penjualan gas dengan PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI) dalam waktu yang disebut-sebut sebagai negosiasi tercepat di dunia, yakni hanya sekitar 10 menit!
Peristiwa bersejarah ini terjadi di Pulau Dewata, Bali, pada hari baik Jumat, 28 November 2025. HOA ditandatangani langsung oleh Presiden Direktur Mubadala, Abdulah Bu Ali, dan Presiden Direktur PLN EPI, Rahmat Dewanto, disaksikan oleh Kepala SKK Migas.
Kecepatan Tak Masuk Akal: Kesepakatan Harga dalam 10 Menit
Dalam laporan resminya, Djoko Siswanto mengungkapkan bahwa kecepatan kesepakatan harga ini merupakan “Rekor Dunia”. Bagaimana tidak? Negosiasi harga gas, yang lazimnya memakan waktu alot, bahkan bisa bertahun-tahun tanpa kepastian, justru disepakati Mubadala dan PLN dalam waktu yang sangat singkat.
“Negosiasi harga gas antara Mubadala & PLN yang difasilitasi oleh SKK Migas ini adalah yang TERCEPAT di DUNIA… hanya dengan waktu kurang dari 1 jam atau sekitar +/- 10 menit terjadi kesepakatan yang kemudian dilanjutkan dengan HOA,” tulis Djoko Siswanto, bercerita kepada ruangenergi.com, Sabtu (29/11/2025).
Harga gas yang disepakati dan bersifat binding (mengikat) tersebut adalah sebesar US$9 per MMBTU. Angka ini dinilai wajar mengingat lokasi Blok Andaman merupakan wilayah deep water (lepas pantai laut dalam) dengan kedalaman lebih dari 1.200 meter, sekitar 65 km dari daratan.
Kabar baik tidak berhenti pada kecepatan negosiasi. Penemuan gas di Blok Andaman disebut-sebut sebagai yang terbesar di Indonesia dalam dekade terakhir. Dengan skema PSC Gross Split, Blok Andaman menyimpan cadangan gas hingga hampir 11 TCF (Triliun Kaki Kubik), angka ini melebihi cadangan Blok Masela yang diperkirakan sebesar 10 TCF.
Mubadala Energy akan memulai pengembangan secara bertahap, dimulai dari Lapangan Tangkulo dengan cadangan sekitar 1 TCF.
Dengan ditandatanganinya HOA, proses pengembangan akan dikebut. Minggu depan, Mubadala dijadwalkan akan mengajukan Plan of Development (POD-I) ke SKK Migas. SKK Migas bertekad menyelesaikan persetujuan POD tersebut kurang dari satu bulan sebelum diajukan ke Menteri ESDM. Setelah itu, Mubadala akan menetapkan FID (Final Investment Decision).
Pada tahap awal, Blok Andaman direncanakan akan memproduksi sekitar 300 MMSCFD (Juta Standar Kaki Kubik per Hari).
Gas dari Mubadala ini akan menjadi tulang punggung kelistrikan Aceh dan Sumatera Utara. Distribusinya akan menggunakan jalur pipa yang ada, seperti pipa Arbel (Arun-Belawan) milik Pertagas, serta jaringan pipa gas yang akan dibangun Pemerintah, yaitu pipa Dusem (Dumai-Sei Mangkei). Total Arbel & Dusem jadi +/- 550 km. Dusem didanai APBN. Arbel di danai Pertamina dan sudah jadi, beroperasi.
“Suatu kolaborasi yang apik dan paten, sehingga diharapkan nantinya tidak ada lagi warga yang tidak ada listriknya!” tegas Djoko Siswanto.
Selain untuk kelistrikan, gas Mubadala ini juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku vital bagi industri pupuk dan petrokimia, memperkuat ketahanan energi dan industri nasional.













