Tanjung Jabung Barat, Jambi, ruangenergi.com – Di balik keriuhan aktivitas hulu migas di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar), tersimpan aroma khas yang mulai mengharum: kopi Liberika.
Komoditas endemik Jambi ini tak hanya kembali merekah, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi kreatif di tingkat akar rumput, sebuah pencapaian yang lahir dari delapan tahun pendampingan intensif program Corporate Social Responsibility (CSR) PetroChina International Jabung Ltd (PCJL).
Sejak 2017, PCJL memfokuskan pendampingan pada mata rantai produksi Liberika, mulai dari peningkatan kualitas pascapanen, pengendalian penyakit akar putih, hingga penerapan budidaya berkelanjutan. Program ini adalah upaya serius untuk membangkitkan kembali Liberika yang, meski produksinya lebih rendah dari Arabika atau Robusta, memiliki keunikan rasa yang menjadikannya komoditas bernilai tinggi.
Titik balik utama program ini adalah pendirian Gerai Kopi Liberika atau Gerai Mekar Jaya pada 30 Oktober 2017. Lebih dari sekadar kedai, gerai ini menjelma menjadi pusat edukasi, hilirisasi produk, dan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.
Semua produk yang dijajakan, mulai dari Paristo, Liberika Café Aji, hingga Kopi Mekar, murni hasil olahan pengrajin kopi Tanjabbar. Kehadiran Gerai Mekar Jaya sekaligus memperkuat posisi Liberika sebagai aset lokal khas daerah, apalagi setelah sentra utamanya, Kecamatan Betara, memperoleh sertifikat Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG).
Ahmad Ramadlan, CSR & Comdev Supervisor PCJL, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk dampak jangka panjang. “Liberika ini bukan sekadar komoditas, tapi identitas daerah. Kami tidak hanya membangun gerai, tetapi membangun kapasitas petani dan UMKM lokal agar mereka mandiri, naik kelas, dan terus berinovasi dari hulu ke hilir,” ujar Ahmad dalam kegiatan Kunjungan Lapangan Media SKK Migas-KKKS, Rabu (26/11/2025).
Dampak pendampingan ini terasa langsung bagi para pelaku UMKM. Harihadi, Pengelola UMKM Gerai Mekar Jaya, menceritakan perubahan signifikan yang terjadi.
“Dulu kami hanya menjual green bean tanpa tahu cara mengolah dan memasarkan. Sekarang anak-anak muda bisa menjadi barista, UMKM punya produk sendiri, dan gerai ini menjadi pusat kegiatan masyarakat. Dampaknya terasa langsung pada ekonomi keluarga kami,” jelas Harihadi.
Gerai Mekar Jaya kini rutin mengadakan berbagai kegiatan kreatif, mulai dari musik, seni, hingga pelatihan barista, menciptakan ekosistem kreatif yang hidup. Meskipun pendapatan harian gerai berfluktuasi, tumbuhnya aktivitas ekonomi turunan membuktikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Bahkan, permintaan pasar yang melonjak telah mendorong harga green bean Liberika hingga sekitar Rp85.000 per kilogram. Karakteristik rasa yang unik dan minimnya pesaing di tingkat nasional bahkan membuka peluang ekspor dengan mulai masuknya permintaan dari Malaysia dan Singapura untuk pasokan Liberika Betara.
Inisiatif PetroChina ini mendapat apresiasi dari industri hulu migas. Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Heru Setyadi, menyoroti kontribusi ini sebagai nilai tambah langsung.
“Inisiatif PetroChina dalam mengembangkan kopi Liberika dan UMKM di Tanjung Jabung Barat adalah contoh nyata bagaimana kegiatan hulu migas dapat memberikan nilai tambah langsung bagi masyarakat. Ketika kapasitas petani meningkat, UMKM naik kelas, dan ekosistem kreatif tumbuh, maka manfaat ekonomi yang tercipta akan mengalir hingga tingkat nasional,” kata Heru.
Ke depan, PetroChina bersama UMKM dan pemerintah daerah berkomitmen untuk terus memperkuat edukasi kopi, pengembangan ekowisata, serta aktivitas kreatif. Kolaborasi yang solid ini diharapkan mampu menjadikan Liberika Jambi sebagai komoditas unggulan yang tidak hanya mendorong ekonomi lokal, tetapi juga membuka peluang baru bagi generasi muda Tanjung Jabung Barat.













