Ketika Alam Mengamuk, Kebersamaan Jadi Penopang, Bukti PHR Hadir Membantu

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Pekanbaru, Riau, ruangenergi.com-Genangan air setinggi pinggang orang dewasa hingga menutup atap rumah tampak menjadi pemandangan yang lazim dalam sepekan terakhir di sejumlah wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Di beberapa titik, arus air bahkan berubah menjadi deras, membawa lumpur dan batang-batang kayu yang terseret dari hulu. Pemerintah daerah tak punya pilihan selain menetapkan status darurat bencana.

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, menegaskan bahwa daerahnya kini berada dalam kondisi tanggap darurat bencana hidrometeorologi. Hal yang sama disampaikan Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, yang menetapkan status darurat untuk banjir dan longsor yang meluas di wilayahnya.

Dalam kepungan bencana ini, aktivitas masyarakat lumpuh. Ribuan warga harus mengungsi. Jalan terputus, listrik padam, dan akses bantuan menjadi terhambat. Namun bencana ini bukan hanya menghantam hunian dan fasilitas umum—wilayah operasi migas pun ikut terdampak, termasuk lingkungan kerja Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1.

PHR Zona 1 membawahi tiga lapangan operasi di wilayah paling terdampak: PHE NSO Field, Pertamina EP Pangkalan Susu Field, dan Pertamina EP Rantau Field. Di beberapa lokasi, banjir datang lebih cepat dari perkiraan.

“Sejak awal kejadian, seluruh tim sudah bergerak. Keselamatan pekerja adalah prioritas kami,” ujar General Manager PHR Zona 1, Hari Widodo, ketika dihubungi di tengah koordinasi penanganan bencana.

Hari mengungkapkan bahwa banjir kali ini menjadi salah satu yang paling berdampak pada kegiatan migas dalam beberapa tahun terakhir. Di Aceh Tamiang, misalnya, air mencapai tiga meter pada 27 November 2025 dan merendam fasilitas produksi Pertamina EP Rantau hingga operasi terpaksa dihentikan sementara.

Di Pangkalan Susu, Sumatera Utara, tim operasi bergerak cepat mengamankan fasilitas Main Gathering Station (MGS). Sebanyak 187 pekerja dan warga sekitar dievakuasi menuju daerah lebih tinggi di Bukit Kunci.

Di tengah kondisi menantang dan akses darat yang banyak terputus, PHR Zona 1 memilih cara paling aman dan cepat: mendistribusikan bantuan menggunakan perahu karet dan helikopter.

Wilayah Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Tamiang, dan Kabupaten Langkat menjadi titik paling awal yang menerima dukungan logistik. Total bantuan pangan yang disalurkan meliputi: 425 kg beras, 480 kg gula, 177 dus mie instan, 135 dus sarden, 103 dus minyak goreng, Air mineral, telur, susu kental manis, biskuit dan juga makanan anak dan bayi.

Kebutuhan harian seperti obat-obatan, selimut, terpal, perlengkapan mandi, hingga popok bayi juga ikut dibagikan.

“Kami bersinergi dengan SKK Migas, pemerintah daerah, BPBD, dan para pemangku kepentingan lain,” jelas Hari. “Yang penting kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, dan pemulihan bisa berjalan.”

Sejak 27 November, PHE NSO juga mengaktifkan pos bantuan di Lhokseumawe. Obat-obatan, makanan, selimut, dan kebutuhan anak disalurkan untuk memastikan warga tetap bertahan dalam masa-masa kritis.

Meski sebagian fasilitas migas terganggu, PHR Zona 1 menegaskan komitmennya: keselamatan pekerja tetap nomor satu, sementara dukungan untuk masyarakat tidak akan berhenti.

Bantuan akan diberikan secara berkelanjutan selama kondisi lapangan memungkinkan. Selain itu, perusahaan juga terus memantau situasi di jalur-jalur akses, memulihkan infrastruktur internal, serta melakukan asesmen risiko terhadap fasilitas yang terdampak.

Bagi warga, kedatangan bantuan ini menjadi oase di tengah ambruknya kehidupan sehari-hari. Di sebuah posko pengungsian di Aceh Tamiang, seorang ibu menggendong bayinya sambil menerima popok dan makanan anak. “Alhamdulillah, ini sangat membantu,” ujarnya pelan.