Bukan Lagi Ekspor Mentah — Mineral Indonesia Kini Menjadi Otak Teknologi Modern

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Selatan, Jakarta, ruangenergi.com-Hilirisasi mineral kembali ditegaskan sebagai agenda strategis Indonesia untuk menambah nilai sumber daya alam sekaligus memperkuat posisi di pasar industri global.

Kepala Departemen Downstream & Mineral Ecosystem MIND ID, Novi Muharam, menekankan bahwa produk tambang nasional kini telah menjadi penopang berbagai teknologi modern dunia.

Berbicara dalam Rembuk Energi dan Hilirisasi 2025 di Jakarta, Rabu (10/12/2025), Novi mengingatkan bahwa hampir seluruh perangkat digital yang digunakan masyarakat sehari-hari bertumpu pada mineral yang dihasilkan Indonesia.

“Ponsel yang dipakai teman-teman hari ini, ini adalah produk tambang. Di dalam ponsel ada timah. Casing-nya aluminium titanium. Baterainya ada kobalt, nikel, litium. Kacanya mengandung silika, dan semikonduktor itu dari silikon,” ujar Novi, menggambarkan betapa vitalnya kontribusi mineral Indonesia bagi teknologi global.

Novi menegaskan hilirisasi bukan sekadar kebijakan industrialisasi, melainkan langkah strategis yang sejalan dengan Asta Cita dan arah pembangunan ekonomi berbasis mineral. Ia menilai nilai tambah kini tercipta karena proses pengolahan dilakukan di dalam negeri, sebagian di antaranya bahkan telah melibatkan kolaborasi dengan pemain global.

Sebagai holding BUMN pertambangan, MIND ID mendorong integrasi penuh dari hulu hingga hilir di seluruh entitasnya di mana Antam memproduksi nikel, bauksit, dan logam mulia. Inalum mengolah aluminium berbasis energi hidro dan kini menghasilkan aluminium bersertifikat hijau yang mulai dipakai untuk casing elektronik dan komponen baterai di pasar internasional. Freeport Indonesia memproduksi tembaga dan emas dengan kapasitas ekspor besar. Bukit Asam mengelola salah satu cadangan batu bara terbesar di Tanah Air.

Menurut Novi, hilirisasi mineral memberi dampak luas: memperkuat daya saing industri kendaraan listrik, perangkat elektronik, hingga manufaktur berteknologi tinggi. Ia juga menyoroti tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru seperti Maluku Utara dan Sulawesi Tengah, yang berkembang pesat berkat investasi industri berbasis mineral.

“Hilirisasi memperkuat Indonesia di kancah global, sekaligus mendukung penciptaan lapangan kerja dan pemerataan investasi ke berbagai daerah,” ujarnya.

Novi menutup paparannya dengan menegaskan bahwa langkah MIND ID adalah wujud komitmen Indonesia menjadi pemain utama dalam industri hilir mineral dunia. Produk tambang Indonesia tidak lagi berhenti sebagai komoditas yang diekspor mentah, tetapi telah bertransformasi menjadi motor inovasi dan pembangunan industri nasional.