Satu Detik Sangat Berarti: PHI, ENI, dan SKK Migas Gelar Latihan Tempur Lawan Insiden Fatal, Mantap!

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Balikpapan, Kaltim, ruangenergi.com– Dalam industri minyak dan gas (migas) yang berisiko tinggi, satu detik keterlambatan bisa berakibat fatal. Menyadari hal ini, SKK Migas Wilayah Kalimantan–Sulawesi (Kalsul) menggelar latihan kesiapsiagaan besar-besaran di Balikpapan, Kalimantan Timur, pada 26–27 November 2025.

Mengusung semangat “Stronger Synergy, Greater Collaboration”, ajang yang bertajuk Joint Readiness Exercise ini tidak main-main. Tiga raksasa migas didapuk menjadi tuan rumah bersama: dua anak usaha PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI)—yakni PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) dan PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM)—serta Eni Muara Bakau B.V. (ENI).

Sebanyak 80 peserta dari 13 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) berkumpul bukan sekadar untuk mendengarkan teori. Fokus utama acara ini adalah table-top drill, sebuah simulasi yang dirancang menyerupai insiden nyata di lapangan.

Suasana dibuat serealistis mungkin. Di satu sisi, Tim Teknis dihadapkan pada proyeksi peta lapangan yang terus berubah warna sesuai eskalasi bahaya. Mereka dipaksa mengambil keputusan cepat dan terukur di bawah tekanan waktu yang terus berjalan.

Di sisi lain, Tim Komunikasi harus berjibaku menghadapi skenario “serangan” dari media massa dan tekanan dari regulator. Pendekatan Incident Command System (ICS) digunakan untuk memastikan rantai komando tetap solid di tengah kekacauan.

Kepala Departemen Operasi SKK Migas Kalsul, Dedy Hidayat, menekankan bahwa teknologi hanyalah alat bantu. Kunci keselamatan justru ada pada manusianya.

“Alat canggih tidak akan berarti tanpa koordinasi. Kecepatan, kejelasan komunikasi, dan kesiapan bersama adalah fondasi yang menyelamatkan,” tegas Dedy.

Latihan ini juga melibatkan berbagai elemen vital negara untuk memastikan respons yang harmonis. Perwakilan dari Ditjen Perhubungan Laut (KPLP), Ditpolairud Polda Kaltim, KSOP, Basarnas, hingga Dinas Lingkungan Hidup turut hadir berdiskusi. Tujuannya satu: menyatukan frekuensi agar saat darurat terjadi, eksekusi di lapangan tidak tumpang tindih.

Manager Communication Relations & CID PHI, Dony Indrawan, menyebut forum ini sebagai langkah strategis memperkuat “benteng” energi nasional. Menurutnya, menjaga keamanan operasi hulu migas sebagai Objek Vital Nasional (Obvitnas) butuh kerja keroyokan.

“Kolaborasi antara seluruh pemangku kepentingan—mulai dari SKK Migas, KKKS, pemerintah daerah, hingga masyarakat—sangat penting dalam menjaga keamanan operasi guna mendukung keberlanjutan produksi migas dan ketahanan energi nasional,” ujar Dony.

Melalui Joint Readiness Exercise ini, diharapkan ekosistem kesiapsiagaan energi di wilayah Kalimantan dan Sulawesi semakin tangguh dalam menghadapi segala kemungkinan terburuk.