Natuna, Kepulauan Riau, ruangenergi.com- Di tengah hamparan Laut Natuna yang luas, sebuah pertarungan sengit antara teknologi manusia dan kekuatan alam baru saja berakhir, Sabtu (13/12/2025). Selama 72 jam terakhir, bukan mesin yang menjadi kendala, melainkan dinding air setinggi empat meter yang mengurung ribuan barel minyak agar tetap tertahan di perut bumi.
Di Lapangan Forel Terubuk yang dioperasikan Medco Natuna, suasana tegang menyelimuti para kru. Sebuah kapal tanker raksasa, yang seharusnya menjadi wadah bagi hasil kekayaan alam tersebut, terpaksa bermain “kucing-kucingan” dengan badai.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menggambarkan situasi tersebut sebagai sebuah perjuangan yang melelahkan. Selama tiga hari berturut-turut, setiap kali tanker mencoba mendekat untuk melakukan proses lifting (pengangkatan minyak), ombak besar langsung menghantam, memaksa kapal raksasa itu mundur menjauh demi keselamatan.
“Kejar-kejaran dengan ombak besar,” ujar Djoko melukiskan situasi di lapangan.
Akibat cuaca ekstrem ini, keran produksi seolah tercekik. Ribuan barel minyak per hari (BOPD) yang seharusnya bisa diproduksi dan diangkut, terpaksa tertahan. Risiko menyambungkan pipa penyalur di tengah guncangan ombak setinggi dua lantai rumah itu terlalu besar untuk diambil.
Namun, kesabaran itu akhirnya berbuah manis pada Sabtu pagi. Langit Natuna mulai bersahabat, dan gelombang yang sebelumnya mengamuk perlahan mereda. Momen langka di musim angin utara ini tidak disia-siakan.
“Alhamdulillah, hari ini laut di Natuna sedang reda,” ungkap Djoko dengan nada lega dalam laporannya.
Memanfaatkan celah cuaca yang tenang, tanker akhirnya berhasil merapat dengan aman. Proses lifting yang tertunda selama tiga hari pun segera dieksekusi. Bagi industri hulu migas, ini bukan sekadar soal memindahkan cairan hitam ke dalam kapal, melainkan kemenangan kecil melawan ketidakpastian alam demi menjaga pasokan energi nasional tetap mengalir.
Kini, setelah “drama” tiga hari itu usai, minyak dari Forel Terubuk kembali mengalir, meninggalkan ombak Natuna yang untuk sementara waktu, memilih untuk berdamai.













