Pekanbaru, Riau, ruangenergi- Sejarah besar industri hulu migas Indonesia kembali terukir di Bumi Lancang Kuning. Tepat pada 23 Desember 2025, Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, meresmikan dimulainya injeksi kimia skala lapangan (Chemical Enhanced Oil Recovery atau C-EOR) di Lapangan Minas, Blok Rokan.
Proyek ini bukan sekadar inovasi teknis, melainkan simbol kemandirian energi nasional. Setelah melalui perjalanan panjang dan tantangan paten dari pihak asing, Indonesia akhirnya resmi menggunakan formula Surfaktan, Alkaline, dan Polimer “Merah Putih” hasil karya anak bangsa.
Semangat “Angka Keramat” 17
Peresmian ini dilakukan di Area A Lapangan Minas yang mencakup 3 pattern (bidang) dengan total 17 sumur, yang terdiri dari 3 sumur injeksi, 13 sumur produksi, dan 1 sumur pemantauan.
“Angka 17 adalah angka keramat, simbol hari kemerdekaan kita. Ini adalah momentum bagi kita untuk merdeka secara energi,” ujar Djoko Siswanto saat membacakan sambutan mewakili Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Proyek C-EOR Minas ini menelan investasi fantastis sekitar US$ 300 juta sejak tahap laboratorium. Perjalanannya pun penuh drama; dari sengketa formula dengan perusahaan asing hingga keputusan berani untuk memproduksi formula sendiri di dalam negeri.
“Ini adalah kebanggaan luar biasa. Kita tidak lagi tergantung pada produk asing karena perwira Pertamina mampu membuat formula sendiri dan memproduksinya di dalam negeri,” tegas Djoko.
Langkah ini menyusul kesuksesan legendaris teknologi Steamflood di Lapangan Duri yang diresmikan Presiden Soeharto pada 1990 silam. Kini, C-EOR Minas diharapkan menjadi “adik kandung” yang sama suksesnya dalam mendongkrak produksi minyak nasional.
Saat ini, lebih dari 12.500 barel bahan kimia telah diinjeksikan. Hasilnya diprediksi mulai terlihat pada tahun depan dengan tambahan produksi 2.800 barel minyak per hari (BOPD). Namun, ini baru permulaan.
SKK Migas memasang target tinggi:Tahun 2029: Produksi Lapangan Minas ditargetkan mencapai 50.000 BOPD. Puncak Produksi: Pengembangan ke Area B, C, D, dan seterusnya ditargetkan menembus angka 200.000 BOPD.
Peresmian ditandai dengan penekanan tombol oleh jajaran petinggi negeri, termasuk Kepala SKK Migas, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Wakil Dirut Pertamina, hingga Komisaris PHE, Stella Christie.
Dalam sambutannya, Komisaris Utama Pertamina menekankan pentingnya kerja keras dan kepatuhan terhadap aspek HSSE (Health, Safety, Security, and Environment). Sementara itu, Plt. Gubernur Riau menyambut hangat proyek ini karena diharapkan mampu meningkatkan Dana Bagi Hasil (DBH) bagi kesejahteraan masyarakat Riau.
“Kami meminta percepatan. Paling lambat tahun 2029 area-area berikutnya sudah harus jalan. Momentum ini harus kita jaga untuk mencapai target lifting 2025,” tutup Djoko Siswanto dengan semangat.
LIFTING NAIK? BISA, BISA, BISA!













