Kilau Mutiara Hitam di Sorong: Sumur Berusia Hampir 100 Tahun Cetak Kinerja Gemilang di Akhir 2025

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Sorong, Papua, ruangenergi.com – Siapa sangka, lapangan minyak yang sudah “sepuh” dan beroperasi sejak zaman kolonial (1932) justru menyimpan kejutan besar di awal tahun ini? Menjelang satu abad pengabdiannya bagi kedaulatan energi nasional, Field Papua di bawah naungan Pertamina EP Zona 14 Regional 4 sukses mematahkan mitos bahwa lapangan tua (mature) identik dengan produksi yang terus merosot.

Alih-alih menyerah pada kondisi alamiah decline (penurunan produksi), para “Perwira” Pertamina di ufuk timur Indonesia justru tancap gas. Mereka membuktikan bahwa dari perut bumi Papua yang berstatus brownfield, emas hitam masih mengalir deras.

 Tantangan mengelola Wilayah Kerja (WK) Papua tidaklah main-main. Selain kondisi sumur yang mayoritas sudah tua, tim di lapangan harus berhadapan dengan lokasi yang sangat terpencil (remote area), akses logistik yang terbatas, hingga kerumitan kondisi bawah tanah (subsurface).

Namun, semangat Energizing Indonesia ternyata lebih besar dari hambatan tersebut. Field Manager Papua Field, Ardi, mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan ini terletak pada strategi ofensif dan kolaborasi solid.

“Usia produksi 100 tahun suatu brownfield bukanlah akhir untuk menyerah pada keadaan, namun bisa berubah menjadi awal optimisme yang menumbuhkan harapan baru,” ujar Ardi penuh semangat.

Memasuki 2025, Pertamina EP Field Papua tidak bermain aman. Mereka menerapkan strategi agresif: mulai dari pengeboran 4 sumur pengembangan di Salawati, percepatan monetisasi gas di Klamono Utara dan Markisa, hingga studi Low Quality Reservoir (LQR) di Sele-Linda.

Hasil kerja keras dari 130 sumur di tiga lapangan utama (Klamono, SeleLinda, dan Salawati) pun langsung terlihat. Catatan produksi Month to Date (MTD) di awal tahun sukses menyentuh angka 848 BOPD, melampaui target yang ditetapkan.

Kejutan dari Sumur SLW-C4X: Meroket 2 Kali Lipat! Bintang utama dari kebangkitan ini adalah keberhasilan pengeboran sumur pengembangan SLW-C4X. Meski sempat mengalami pergeseran jadwal, pengeboran akhirnya dimulai (tajak) pada 2 November 2025 menggunakan RIG PDSI #11.2/N80B-M.

Hanya dalam waktu 42 hari, tim berhasil menembus kedalaman 2.150 meter. Menggunakan teknologi Artificial Lift Electric Submersible Pump (ESP) tipe MG3200, sumur ini memberikan respons yang luar biasa.

  • 12 Desember 2025: Uji coba awal langsung mengucurkan 581,26 BOPD (di atas target 510 BOPD).

  • 18 Desember 2025: Produksi terus merangkak naik ke angka 859 BOPD.

  • Update Terkini: Performa sumur stabil dan “meroket” hingga 1.109,80 BOPD.

Angka ini jauh melampaui ekspektasi, bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat target awal.

“Keberhasilan ini membuktikan bahwa semangat inovasi tiada henti dan loyalitas tim mampu menjawab tantangan. Potensi brownfield di Papua masih sangat menjanjikan untuk terus digali,” tutup Ardi optimis.

Kini, denyut nadi migas di Tanah Papua kembali berdetak kencang, mengirimkan sinyal kuat bahwa dari wilayah paling timur Indonesia, kedaulatan energi nasional terus dijaga dengan sepenuh hati.