Rapor Hijau MIND ID: Hilirisasi Sukses, TINS dan ANTM Jadi Primadona Bursa 2025

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com-Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menutup buku tahun 2025 dengan senyum lebar bagi para investor sektor pertambangan, khususnya mereka yang memegang saham di bawah payung Holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID).

Di tengah gelombang ketidakpastian pasar global, emiten-emiten pelat merah ini justru memamerkan ototnya. Integrasi strategis antar-anak usaha dan keberhasilan program hilirisasi mineral dinilai menjadi bahan bakar utama yang melesatkan kinerja saham Grup MIND ID, sekaligus menebar optimisme menyambut tahun 2026.

Berdasarkan data penutupan perdagangan Selasa (30/12/2025), PT Timah Tbk (TINS) keluar sebagai bintang utama (top performer). Tak main-main, harga saham TINS melonjak drastis hingga 190,65 persen secara year-to-date (YtD), menutup tahun di level Rp3.110 per saham.

Posisi runner-up ditempati oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Didorong oleh kilau harga emas domestik dan ekspansi yang agresif, saham ANTM berhasil melesat 106,56 persen YtD ke posisi Rp3.150 per saham.

Kinerja solid juga ditunjukkan oleh emiten nikel, PT Vale Indonesia Tbk (INCO), yang membuktikan ketangguhannya menavigasi volatilitas global dengan kenaikan 42,96 persen ke level Rp5.175 per saham. Sementara itu, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menutup tahun dengan stabil di level Rp2.310 per saham.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, menilai fenomena ini sebagai kebangkitan saham BUMN non-bank. Menurutnya, dominasi sektor perbankan kini mulai diimbangi oleh daya tarik emiten tambang yang memiliki fundamental teknikal kuat.

“Sejumlah emiten pelat merah nonbank menunjukkan tren teknikal yang positif. Saham seperti TINS dan ANTM, kemudian juga TLKM dan PGEO, memiliki prospek yang relatif kuat,” ungkap Nafan.

Nafan menyoroti dua katalis penting yang menjaga kepercayaan pasar: Perombakan Manajemen: Perubahan komisaris dan direksi BUMN dinilai membawa sinyal positif terkait disiplin belanja modal (capex) dan efisiensi. Faktor “Danantara”: Kehadiran Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia serta wacana restrukturisasi BUMN dianggap sebagai angin segar. Jika pengelolaan aset berjalan konsisten, peluang perbaikan kinerja menuju 2026 kian terbuka lebar.

Optimisme serupa disuarakan oleh Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata. Ia melihat valuasi emiten tambang BUMN saat ini sudah masuk kategori value stocks yang sangat menarik, ditambah dengan potensi cost of fund yang lebih kompetitif.

Untuk tahun 2026, Liza memprediksi sektor energi dan komoditas strategis masih akan memegang kendali pasar modal nasional.

“Dari sektor pertambangan, ANTM dinilai sebagai salah satu kandidat unggulan dengan prospek pertumbuhan yang menarik