Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Komitmen industri hulu minyak dan gas bumi (migas) terhadap kelestarian lingkungan kembali dibuktikan secara nyata. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama PetroChina International Jabung Ltd resmi menyerahkan kembali lahan seluas 34 hektare kepada negara melalui Kementerian Kehutanan.
Lahan tersebut bukanlah lahan kosong, melainkan kawasan hutan lindung gambut Londerang di wilayah kerja Jabung, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, yang telah berhasil direhabilitasi. Penyerahan ini merupakan bagian dari pemenuhan kewajiban Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH).
Vice President Operations PetroChina, Khostarosa Andhika Jaya, menjelaskan bahwa lahan yang diserahkan sebelumnya digunakan untuk jalur pipa, fasilitas produksi, dan sumur eksploitasi.
“SKK Migas dan PetroChina secara resmi menyerahkan kembali 34 hektare lahan kawasan hutan lindung gambut Londerang. Ini adalah wujud kepatuhan kami atas kewajiban PPKH, sekaligus komitmen sebagai mitra pemerintah dalam pengelolaan lingkungan yang lestari,” ujar Andhika, Minggu (4/1/2026).
Yang menarik, proses pemulihan ekosistem di lahan gambut ini mencatatkan hasil yang impresif. Berdasarkan penilaian tim lintas instansi—yang melibatkan BPDAS Batanghari, Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, dan UPTD KPH Unit XIV Tanjung Jabung Timur—tingkat keberhasilan tumbuh tanaman mencapai angka 95,88 persen.
Penyerahan hasil penilaian ini telah dilakukan langsung kepada Direktur Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan, Dyah Murtiningsih, di Jakarta pada Desember 2025 lalu.
Andhika memaparkan bahwa lahan tersebut kini telah kembali hijau dengan vegetasi asli rawa.
“Beberapa vegetasi asli yang tumbuh subur di area ini antara lain jelutung rawa, pulai rawa, balangeran, kayu aro, jengkol, nangka, dan pinang,” jelasnya.
Dengan pola tanam rapat berjarak 3×3 meter (sekitar 1.100 batang per hektare), rata-rata tinggi tanaman kini telah mencapai 127,5 cm, menandakan fungsi ekologis hutan tersebut mulai kembali normal.
Upaya PetroChina dalam menjaga “paru-paru” Jambi bukan cerita baru. Sejak 2022, perusahaan ini aktif dalam rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS). Pada tahun 2023, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) bahkan memberikan penghargaan atas keberhasilan rehabilitasi DAS seluas 473 hektare dan hutan kota seluas 40 hektare di Muara Sabak Barat.
Tak hanya di hutan darat dan gambut, PetroChina juga gencar melakukan penanaman mangrove di wilayah pesisir. Hingga awal 2026, tercatat lebih dari 93 ribu bibit mangrove telah ditanam di berbagai lokasi di Indonesia.
“Ini termasuk 35.200 mangrove di Waitambi dan 10.813 di Pangkal Babu, Jambi. Kami juga menanam 10.000 mangrove di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, serta 5.000 mangrove di Pulau Pari, Kepulauan Seribu,” tambah Andhika.
Langkah konkret SKK Migas dan PetroChina ini mendapat sambutan positif dari pemerintah. Direktur Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan, Dyah Murtiningsih, membenarkan klaim keberhasilan tersebut.
Menurut Dyah, apa yang dilakukan PetroChina bisa menjadi role model atau percontohan bagi perusahaan lain dalam menyeimbangkan kegiatan operasi dengan tanggung jawab lingkungan.
“Selain dapat menjaga ekosistem tetap lestari dan berkelanjutan, langkah ini tentunya mempertahankan keseimbangan alam. Dampaknya dapat bermanfaat bagi semua pihak,” pungkas Dyah.













