Kilang Balikpapan memasuki babak baru. Kehadiran Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex menjadi penanda lompatan besar modernisasi kilang Pertamina melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, sekaligus mengukuhkan langkah Indonesia menuju kilang berstandar kelas dunia.
RFCC Complex dirancang sebagai unit pengolahan utama yang mampu mengubah residu minyak—yang sebelumnya bernilai rendah dan sulit diolah—menjadi berbagai produk bahan bakar dan petrokimia bernilai tinggi. Melalui fasilitas ini, Kilang Balikpapan kini mampu memproduksi BBM ramah lingkungan berstandar Euro 5, dengan kadar sulfur yang jauh lebih rendah.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyebut RFCC Complex sebagai tulang punggung operasional Kilang Balikpapan sekaligus fondasi transisi energi yang lebih bersih.
“Dengan RFCC Complex, Kilang Balikpapan mengalami peningkatan signifikan dari standar Euro 2 dengan kandungan sulfur 2.500 ppm menjadi Euro 5 yang hanya 10 ppm. Ini merupakan lompatan besar kualitas BBM nasional, sekaligus membuka peluang produksi petrokimia,” ujar Baron.
Tak hanya meningkatkan kualitas BBM, proyek RDMP Balikpapan juga mendongkrak kapasitas kilang menjadi 360 ribu barel per hari, sekaligus mendukung program hilirisasi energi nasional. Untuk pertama kalinya, Kilang Balikpapan mampu memproduksi petrokimia seperti propylene serta produk turunan lainnya, termasuk sulfur.
Baron menambahkan, beroperasinya RFCC Complex membuat Kilang Balikpapan tidak lagi hanya memproduksi bensin dan solar. Produksi LPG juga meningkat signifikan, diperkirakan mencapai 336 ribu ton per tahun.
“Tambahan produksi LPG ini akan memperkuat pasokan dalam negeri dan secara bertahap mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor,” jelasnya.
Dari sisi teknologi, modernisasi ini tercermin pada lonjakan Nelson Complexity Index (NCI) Kilang Balikpapan dari 3,7 menjadi 8,0, menandakan kemampuan kilang yang semakin kompleks dan fleksibel dalam menghasilkan produk bernilai tinggi.
Sementara itu, Yield Valuable Product (YVP) melonjak dari 75,3 persen menjadi 91,8 persen, atau naik sekitar 16 persen—sebuah capaian yang menegaskan peningkatan efisiensi dan daya saing kilang.
Dengan kemampuan mengolah residu menjadi produk bernilai seperti nafta dan propylene, RFCC Complex tak hanya meningkatkan nilai ekonomi kilang, tetapi juga memperluas kontribusi Kilang Balikpapan dalam rantai industri energi dan petrokimia nasional.
“RFCC Complex menjadi simbol kesiapan Pertamina menyongsong era baru pengolahan kilang modern, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap swasembada energi nasional sebagaimana diamanatkan dalam Asta Cita Pemerintah,” tegas Baron.
Sejalan dengan perannya sebagai pemimpin transisi energi, Pertamina menegaskan komitmennya mendukung target Net Zero Emission 2060 dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Seluruh transformasi ini dijalankan dengan mengedepankan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasional perusahaan.













