Napak Tilas Wahyudi Anas di Cepu: Dari Mahasiswa Biasa Menuju Garda Terdepan Energi Bangsa

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Cepu, Jawa Tengah, ruangenergi.com-Di sebuah aula yang padat di Cepu, Jawa Tengah, Senin (12/01/2026), ribuan pasang mata menatap panggung dengan antusias. Mereka adalah 1.290 mahasiswa Politeknik Energi dan Mineral (PEM) Akamigas, calon-calon garda terdepan energi nasional.

Di hadapan mereka, berdiri sosok yang tak asing dengan jaket almamater maupun aroma minyak dan gas yang khas di wilayah ini: Wahyudi Anas.

Bagi Wahyudi, yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), berdiri di podium acara One Day With Experts hari itu bukan sekadar kunjungan kerja pejabat negara. Ini adalah perjalanan napak tilas. Pulang ke rumah.

Suasana menjadi hangat ketika Wahyudi mengungkapkan fakta yang mendekatkan jarak antara podium dan kursi audiens: ia adalah alumni Program Studi Teknologi Gas PEM Akamigas.

“Amanah yang saya emban saat ini tidak terlepas dari studi yang ditempuh di sini,” ujarnya dengan nada bangga, seperti dikutip dari website BPHMIGAS.

Wahyudi mengenang masa-masa digembleng di kampus vokasi tersebut. Menurutnya, PEM Akamigas bukan sekadar tempat belajar teori, melainkan kawah candradimuka yang menempa mental dan keahlian teknis.

“Keteknikannya sangat kuat, prakteknya sangat istimewa, fasilitas juga sangat bagus. Ini memberikan kesempatan belajar yang sangat optimal,” kenang Wahyudi. Ia menekankan bahwa pengalaman terjun langsung di dunia kilang, instrumentasi, dan logistik semasa kuliah adalah bekal tak ternilai yang membawanya menapaki karier panjang, mulai dari Perusahaan Gas Negara (kini PGN Tbk) hingga memimpin BPH Migas.

Namun, Wahyudi tidak hanya berbicara soal teknis. Ia membagikan “resep rahasia” bertahan dan sukses di industri yang keras ini. Menurutnya, ilmu yang mumpuni harus dilapisi dengan tiga pilar karakter: dedikasi, loyalitas, dan integritas.

Pesan ini disambut antusias oleh Franchy Luthfan, mahasiswa Program Studi Teknik Produksi Migas. Baginya, kehadiran Wahyudi membawa angin segar dan harapan nyata.

“Terima kasih kepada Kepala BPH Migas. Tidak hanya materi, tetapi juga kunci bagaimana meraih kesuksesan di masa depan,” ungkap Franchy.

Di balik nostalgia, terselip misi mendesak. Indonesia tengah berjuang mewujudkan swasembada energi, mengurangi impor minyak bumi, serta memastikan subsidi BBM tepat sasaran. Wahyudi menegaskan, tongkat estafet perjuangan ini harus segera diserahkan kepada generasi baru yang kompeten.

“Kami ingin mengajak adik-adik di PEM Akamigas menjadi generasi penerus yang bisa membantu program Pemerintah,” ajak Wahyudi.

Dia berharap kolaborasi antara regulator seperti BPH Migas dan institusi pendidikan dapat mencetak pemimpin sektor energi yang siap pakai.

Optimisme ini beralasan. PEM Akamigas saat ini memiliki lima program studi sarjana terapan yang relevan, mulai dari Teknik Produksi hingga Logistik Migas. Dengan rata-rata 400 lulusan per tahun, lebih dari 90 persen di antaranya langsung terserap di industri hulu, hilir, maupun penunjang.

Direktur PEM Akamigas, Erdila Indriani, menyambut baik sinergi ini. Bagi Erdila, kembalinya Wahyudi ke kampus adalah bukti hidup dari keberhasilan sistem pendidikan mereka.

“Ini bukti nyata cerita sukses, di mana Bapak Wahyudi tidak hanya menjadi pegawai industri migas, tetapi turut menduduki level tertinggi salah satu lembaga di sektor energi,” tutur Erdila.

Ia menambahkan bahwa BPH Migas memegang peran krusial sebagai support system yang menyelaraskan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan riil di lapangan.

Siang itu di Cepu, pertemuan antara senior dan junior ini bukan sekadar seremonial. Ia adalah simbolisasi penguatan benteng energi nasional, memastikan bahwa ketika satu generasi tuntas menunaikan tugas, generasi berikutnya—yang lebih tangguh dan siap—sudah berdiri tegap untuk melanjutkannya.