Pagardewa, Sumsel, ruangenergi.com-Gelak tawa anak-anak kini terdengar riuh di tepi Danau Kemiri. Di antara wahana permainan (playground) yang penuh warna dan lanskap danau yang tenang, Desa Pagardewa seolah menemukan detak jantung barunya.
Pemandangan pada Senin (12/01/2026) itu menandai babak baru bagi desa di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan ini.
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) secara resmi menyerahkan fasilitas wisata edukatif dan landmark Danau Kemiri kepada pemerintah desa setempat. Namun, di balik seremonial gunting pita dan fasilitas fisik yang megah, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan melawan keterbatasan dan ikhtiar membangun kemandirian.
Selama puluhan tahun, Pagardewa identik dengan getah karet. Sekitar 70 persen warganya menggantungkan hidup pada komoditas ini. Namun, menjadi petani karet bukanlah jalan yang sunyi dari masalah. Fluktuasi harga pasar yang tak menentu kerap membuat pendapatan warga timbul tenggelam. Belum lagi saat kemarau tiba; ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mengintai, sementara air bersih menjadi barang mewah yang memaksa warga berjalan kaki hingga satu kilometer demi mendapatkannya.
Kenyataan inilah yang mendorong lahirnya Program Inovasi Sosial Penguatan Desa Ekonomi Kreatif, Aman, dan Setara—atau yang akrab disebut Pendekar Dewa.
Direktur Manajemen Risiko PGN, Eri Surya Kelana, menegaskan bahwa bantuan ini bukan sekadar donasi sesaat. “Program ini tidak hanya berorientasi pada bantuan jangka pendek, tetapi membangun sistem yang mampu meningkatkan ketahanan lingkungan dan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan,” ujarnya, Selasa (13/01/2026).
Transformasi Pagardewa tidak terjadi dalam semalam. PGN merancang program ini dalam tiga fase strategis sejak 2021 hingga mencapai puncaknya di fase keberlanjutan pada 2025 ini. Program ini berdiri di atas tiga pilar utama: Aman, Setara, dan Ekonomi Kreatif.
Pada pilar Aman, petani karet kini bisa bernapas lega. Kehadiran Program Stasiun Lateks berhasil memangkas rantai distribusi yang panjang, membuat harga jual lebih stabil. Tak hanya itu, program Sebakul Dewa menyediakan bibit unggul, sementara budidaya madu menjadi sumber pendapatan alternatif.
Hasilnya nyata. Pada tahun 2025, pendapatan petani karet tercatat melonjak hingga Rp57,6 juta per tahun—naik 33,3 persen dibanding tahun sebelumnya. Kaum perempuan yang dulunya hanya mengurus rumah tangga, kini berdaya lewat UMKM dengan total penjualan mencapai Rp11,38 juta.
Di sisi lain, pilar Setara menjawab jeritan warga akan air bersih. PGN membangun lima fasilitas MCK bertenaga surya (PLTS). “Dulu warga harus berjalan jauh, kini air bersih tersedia dekat rumah,” sebuah perubahan kecil yang berdampak besar bagi 28 kepala keluarga, sekaligus menjadi modal penting untuk mitigasi kebakaran lahan.
Puncak dari transformasi ini adalah wajah Danau Kemiri saat ini. Di bawah pilar Ekonomi Kreatif, danau yang dulunya sunyi kini disulap menjadi pusat wisata edukatif.
Dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Rumpun Kemiri, kawasan ini dilengkapi aula, booth UMKM, taman lalu lintas, hingga amphitheater. Sepanjang 2025, angka kunjungan menembus 6.554 orang, menghasilkan pendapatan wisata sebesar Rp92,48 juta—sebuah lonjakan fantastis sebesar 191 persen.
Namun, Eri Surya Kelana mengingatkan bahwa fungsi Danau Kemiri melampaui estetikanya. Dengan kapasitas tampung 22.500 meter kubik, danau ini adalah benteng pertahanan desa: sebagai cadangan air baku saat kemarau dan sumber air untuk memadamkan api jika Karhutla mengancam.
“Danau Kemiri tidak hanya dikembangkan sebagai kawasan wisata, tetapi juga sebagai solusi berbasis kebutuhan masyarakat,” tegas Eri.
Penyerahan fasilitas ini menandai masuknya fase ketiga program: penguatan keberlanjutan. Kini, tongkat estafet pengelolaan sepenuhnya berada di tangan warga Pagardewa.
Staf Ahli Pemerintahan, Hukum, dan Politik Kabupaten Muara Enim, Juli Jumatan Nuri, mengapresiasi langkah komprehensif ini. “Program PGN dirancang dari hulu ke hilir. Mulai dari pemetaan masalah, pemenuhan kebutuhan dasar, hingga kemandirian. Ini memberikan dampak nyata dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Kini, Desa Pagardewa tak lagi hanya dikenal sebagai penghasil karet. Ia telah menjelma menjadi desa yang berdaya, di mana ekonomi kreatif tumbuh berdampingan dengan ketahanan lingkungan, dan warganya—sang “Pendekar Dewa”—siap menjaga warisan ini untuk masa depan.












