Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com– Di tengah dinamika harga nikel global yang masih berfluktuasi, PT Vale Indonesia Tbk menegaskan komitmennya untuk terus menjaga ketahanan industri nikel nasional. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk Bernardus Irmanto dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Senin (19/1/2026).
Dalam forum tersebut, Bernardus menyampaikan bahwa tekanan global tidak menyurutkan langkah perseroan untuk tetap fokus pada hilirisasi nikel, peningkatan nilai tambah, serta praktik pertambangan yang bertanggung jawab. Menurutnya, hilirisasi bukan hanya agenda bisnis, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang untuk mendukung kepentingan nasional.
PT Vale, yang telah beroperasi di Indonesia selama lebih dari lima dekade, saat ini mengelola wilayah tambang di Sorowako, Pomalaa, dan Bahodopi, serta terus mengembangkan proyek-proyek strategis berbasis energi bersih dan prinsip keberlanjutan.
Di hadapan para anggota dewan, manajemen PT Vale memaparkan bahwa hingga November 2025, produksi nikel matte tercatat mencapai 66.848 ton, tumbuh sekitar 3 persen secara tahunan. Sementara total penjualan nikel matte mencapai 67.351 ton, atau meningkat 2 persen year-on-year.
Selain itu, PT Vale juga mulai memperluas aktivitas komersial melalui penjualan bijih nikel saprolit dari wilayah Pomalaa dan Bahodopi, dengan total realisasi mencapai sekitar 1,9 juta wmt hingga November 2025. Di tengah kondisi pasar yang menantang, perseroan mencatatkan pendapatan sekitar US$ 902 juta, ditopang oleh peningkatan volume produksi.
Bernardus menegaskan bahwa aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari operasional PT Vale. Sejumlah indikator menunjukkan kinerja yang terjaga, mulai dari intensitas emisi gas rumah kaca dan SO₂ yang berada di bawah ambang batas, hingga capaian keselamatan kerja dengan TRIFR 0,47 pada 2025.
Komitmen tersebut juga tercermin dari pengakuan lembaga independen, di mana PT Vale meraih peringkat risiko ESG terbaik untuk perusahaan tambang di Indonesia versi Sustainalytics, dengan skor 23,7 dalam kategori medium risk.
Dalam RDP tersebut, PT Vale turut memaparkan perkembangan Indonesia Growth Project (IGP) di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako Limonite. Proyek-proyek ini mencakup pembangunan tambang dan fasilitas HPAL untuk menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku utama industri baterai kendaraan listrik.
Total nilai investasi proyek IGP mencapai lebih dari US$ 8 miliar, dengan target operasi bertahap mulai 2025 hingga 2027, sekaligus membuka ribuan lapangan kerja di berbagai wilayah Sulawesi.
Menutup paparannya, Bernardus menekankan pentingnya keseimbangan antara produksi dan keberlanjutan. “Tidak ada masa depan tanpa pertambangan, dan tidak ada pertambangan tanpa memikirkan masa depan,” ujarnya.












