PT Garam dan KPI Teken MoU Produksi Garam Industri dari Limbah Kilang

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Kabar positif datang dari sektor industri nasional. PT Garam dan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) resmi menjalin kerja sama strategis melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pemanfaatan limbah air sisa proses kilang menjadi garam industri berkualitas tinggi.

Kerja sama ini bertujuan mengolah air brine atau “air tua” hasil proses desalinasi di Refinery Unit V Balikpapan menjadi bahan baku garam industri, sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor garam.

Direktur Utama PT Garam, Abraham Mose, mengatakan air brine yang selama ini dianggap residu memiliki tingkat salinitas tinggi sehingga berpotensi besar dikembangkan sebagai bahan baku garam industri. Gagasan kerja sama ini muncul setelah pihaknya berdiskusi dengan Wakil Menteri Investasi/BKPM Todotua Pasaribu.

“PT Garam terus berupaya menghadirkan terobosan dan inovasi. Penjajakan ini diharapkan membuka peluang pengembangan industri garam yang terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan,” ujar Abraham dalam keterangan resmi, Kamis (29/1/2026).

Dalam kolaborasi tersebut, PT Garam akan bertanggung jawab melakukan kajian teknis, studi kelayakan, pemodelan ekonomi, serta proyeksi pasar. Sementara itu, PT KPI menyediakan data teknis, akses operasional, dan fasilitas lokasi di area Kilang Balikpapan.

Kerja sama ini juga menjadi bagian dari implementasi Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional. Pemanfaatan teknologi dari proyek Refining Development Master Plan (RDMP) Pertamina dinilai dapat mempercepat pencapaian swasembada garam nasional.

Penandatanganan MoU tersebut disaksikan oleh perwakilan manajemen Danantara, Holding Pangan ID FOOD, serta PT Pertamina (Persero), sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan industri strategis nasional.

Proyek pemanfaatan limbah kilang ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat kemandirian industri garam sekaligus meningkatkan nilai tambah sektor energi dan pangan di dalam negeri.