Good Job! ANTAM, IBC, dan Huayou Perkuat Hilirisasi Nikel, Bangun Ekosistem Baterai Terintegrasi di Indonesia

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Indonesia kian memantapkan langkah menjadi pemain utama industri baterai dunia. PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), PT Industri Baterai Indonesia (Indonesia Battery Corporation/IBC), bersama mitra strategis global Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd., resmi menegaskan komitmen bersama untuk mempercepat pengembangan ekosistem baterai terintegrasi di Tanah Air.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Framework Agreement (FA) sebagai kerangka awal percepatan Program Hilirisasi Nikel dan investasi ekosistem baterai terintegrasi nasional.

Kolaborasi strategis ini melibatkan HYD Investment Limited, konsorsium yang dibentuk oleh Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. dan EVE Energy Co., Ltd., serta PT Daaz Bara Lestari Tbk. Tujuannya jelas: membangun rantai pasok baterai terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari pengelolaan sumber daya nikel, pengolahan dan pemurnian, hingga produksi baterai di dalam negeri.

Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menegaskan bahwa kerja sama ini menjadi tonggak penting dalam mewujudkan posisi Indonesia sebagai pemain utama industri baterai terintegrasi global.

“IBC dibentuk untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga menjadi pusat industri baterai terintegrasi yang berdaya saing global dan berkelanjutan. Kolaborasi ini mencerminkan kuatnya komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem industri nasional bernilai tambah tinggi,” ujar Aditya.

Dari sisi hulu, ANTAM menegaskan perannya sebagai penyedia bahan baku strategis yang dikelola secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Direktur Utama ANTAM, Untung Budiharto, menyatakan bahwa kerja sama ini sejalan dengan mandat ANTAM dalam memperkuat agenda hilirisasi mineral nasional.

“Bagi ANTAM, kolaborasi ini merupakan bagian dari transformasi strategis untuk memastikan sumber daya mineral Indonesia memberikan nilai tambah maksimal di dalam negeri. Melalui sinergi dengan IBC dan mitra global seperti Huayou, kami berkomitmen mendukung pengembangan ekosistem baterai terintegrasi yang berkelanjutan, kompetitif, dan sejalan dengan kepentingan strategis nasional,” tegas Untung,dalam siaran pers yang diterima ruangenergi.com.

Sementara itu, Presiden Direktur Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd., Chen Xuehua, menilai Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok baterai global, baik dari sisi ketersediaan sumber daya maupun visi kebijakan industrialisasi.

“Huayou memandang Indonesia sebagai mitra strategis jangka panjang dalam pengembangan industri baterai global. Melalui kolaborasi ini, kami berkomitmen membawa teknologi, pengalaman industri, serta praktik keberlanjutan global untuk mendukung pengembangan ekosistem baterai terintegrasi di Indonesia,” ujar Chairman Huayou tersebut.

Sebagai entitas yang ditugaskan pemerintah untuk mengembangkan industri baterai nasional, IBC berperan sebagai penghubung sekaligus orkestrator sinergi antara industri dalam negeri dan mitra global, termasuk dalam aspek teknologi dan manajemen proyek. Kerja sama ini juga membuka peluang besar bagi alih teknologi serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia nasional.

Rencana pengembangan ekosistem baterai terintegrasi ini mencakup pembangunan fasilitas baterai yang akan dirinci lebih lanjut melalui studi kelayakan. Proyek tersebut ditargetkan memiliki kapasitas hingga 20 GWh, dengan nilai investasi mencapai USD 5–6 miliar.

Ke depan, proyek ini diproyeksikan menciptakan ribuan lapangan kerja, memperkuat struktur industri nasional, serta memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan agenda transisi energi Indonesia.

Framework Agreement ini menjadi landasan penyusunan studi kelayakan bersama serta perjanjian definitif yang akan diimplementasikan secara bertahap. ANTAM, IBC, dan Huayou menegaskan komitmen untuk memastikan seluruh tahapan pengembangan proyek dijalankan dengan prinsip tata kelola yang baik, keberlanjutan, serta sejalan dengan kepentingan strategis nasional.