PHE Bidik Migas Non-Konvensional dan Deepwater, Amankan Energi RI di Tengah Transisi

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— Di tengah gencarnya transisi menuju energi baru dan terbarukan, sektor minyak dan gas bumi (migas) masih memegang peran krusial dalam menjaga ketahanan energi nasional. PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Subholding Upstream Pertamina, menegaskan komitmennya untuk tetap menjadi penopang utama pasokan energi nasional, khususnya dalam jangka panjang.

Direktur Pengembangan dan Produksi PHE, Mery Luciawaty, menilai bahwa transisi energi tidak bisa dilakukan secara instan dengan meninggalkan migas begitu saja. Menurutnya, migas tetap dibutuhkan untuk memastikan stabilitas pasokan energi sekaligus menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional.

“Dalam fase transisi menuju Net Zero Emission, migas masih menjadi tulang punggung ketahanan energi nasional. Tantangannya adalah bagaimana mengelolanya secara berkelanjutan,” ujar Mery dalam Diskusi Panel Scope Upstream Excellence Forum bertema Potensi dan Tantangan Masa Depan Industri Hulu Migas dalam Mewujudkan Swasembada Energi, di Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Untuk menjawab tantangan tersebut, PHE mengarahkan strategi jangka panjangnya pada pengembangan proyek laut dalam (deepwater) dan Migas Non-Konvensional (MNK). Kedua sektor ini diproyeksikan menjadi new frontier industri hulu migas nasional.

Pengembangan deepwater dinilai menyimpan potensi besar sebagai sumber cadangan baru, sementara MNK menjadi peluang strategis untuk menjaga kesinambungan produksi migas nasional di masa depan.

“Kami terus mendorong agar setiap temuan eksplorasi bisa dipercepat konversinya menjadi proyek pengembangan yang ekonomis dan komersial, sehingga benar-benar berdampak pada peningkatan produksi dan cadangan nasional,” jelas Mery.

Sejalan dengan agenda transisi energi, PHE juga menerapkan strategi pertumbuhan ganda (dual growth strategy). Di satu sisi, perusahaan memaksimalkan bisnis inti migas, dan di sisi lain mengembangkan bisnis rendah karbon. Beberapa inisiatif yang digarap antara lain teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS/CCUS), hidrogen geologi, serta berbagai program dekarbonisasi operasional.

“Strategi ini kami yakini dapat menjaga daya saing perusahaan sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian target penurunan emisi nasional,” imbuhnya.

Dengan penguatan kapabilitas organisasi, dukungan regulasi yang jelas, serta sinergi erat dengan pemerintah dan mitra strategis, PHE optimistis sektor hulu migas akan tetap menjadi motor penting ketahanan energi dan stabilitas ekonomi Indonesia di masa transisi energi.

Tak hanya fokus pada bisnis, PHE juga menegaskan komitmennya terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Perusahaan menerapkan kebijakan Zero Tolerance on Bribery serta memperkuat pencegahan fraud melalui Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang telah berstandar internasional ISO 37001:2016.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya PHE memastikan pengelolaan hulu migas yang berkelanjutan, bersih, dan berintegritas demi masa depan energi Indonesia.