Good News Migas: Sumur Horizontal Karbonat Hasilkan 528 BOPD

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Kabar menggembirakan datang dari sektor hulu migas nasional. Upaya menembus keterbatasan reservoir berkualitas rendah kembali menunjukkan hasil positif. Pengeboran sumur horizontal Yvonne A-12Hz di wilayah Offshore Southeast Sumatra berhasil membuktikan bahwa batuan dengan karakteristik “sulit mengalirkan minyak” tetap dapat dioptimalkan dengan pendekatan teknologi dan kolaborasi lintas fungsi.

Keberhasilan ini dilaporkan langsung oleh Kepala SKK Migas Djoko Siswanto pada Sabtu (7/2/2026), menyebut pencapaian ini sebagai good news bagi industri migas nasional. Sumur yang dioperasikan Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) tersebut mampu memproduksikan minyak hingga 528 barel per hari (BOPD), melampaui target produksi awal sebesar 415 BOPD.

Djoko melaporkan, pengeboran Sumur horizontal YvonneA-12Hz merupakan hasil koordinasi dari Tim Task Force LQR ( Low Quality Reservoar) dan Fungsi Terkait SKK Migas bersama-sama dengan KKKS PHE OSES.

Sumur Yvonne A-12Hz merupakan sumur horizontal yang secara khusus dirancang untuk mengoptimalkan reservoir kategori Low Quality Reservoir (LQR). Pengeboran dimulai pada 18 Desember 2025 dan berhasil mencapai total kedalaman 7.413 feet measured depth (MD), dengan panjang horizontal section mencapai 1.820 feet. Sumur kemudian langsung diproduksikan (Put on Production/POP) pada awal Februari 2026.

Target pengeboran berada pada lapisan karbonat bioklastik di Formasi Upper Baturaja. Lapisan ini dikenal memiliki porositas relatif rendah, hanya sekitar 13–14 persen, dengan permeabilitas matriks sangat rendah di kisaran 1–3 miliDarcy. Kondisi tersebut membuat kemampuan batuan mengalirkan minyak secara alami sangat terbatas, sehingga dikategorikan sebagai LQR. Pada lapisan ini terdapat oil column setebal 45 feet dengan sweet spot sekitar 7 feet.

Sebelum keputusan pengeboran horizontal diambil, berbagai praktik terbaik telah diterapkan secara komprehensif. Mulai dari studi subsurface LQR, perencanaan dan eksekusi konstruksi sumur, penempatan sumur berbasis boundary mapper, penggunaan AICD intelligent lower completion, hingga monitoring dan optimasi produksi.

Menariknya, pada tahap awal produksi sumur ini mampu mengalirkan minyak secara natural tanpa stimulasi tambahan. Berdasarkan hasil pengujian terbaru per 5 Februari 2026, sumur menghasilkan produksi stabil di kisaran 465 hingga 528 BOPD dengan water cut nol persen.

Keberhasilan ini bukan hanya pencapaian teknis semata, tetapi juga buah dari koordinasi erat antara Tim Task Force LQR dan fungsi terkait SKK Migas bersama kontraktor kontrak kerja sama PHE OSES. Kolaborasi ini menjadi model kerja terstruktur dalam mengembangkan reservoir non-konvensional atau marginal di Indonesia.

Melihat hasil positif tersebut, PHE OSES menargetkan pengeboran enam sumur horizontal LQR sepanjang 2026. Saat ini, pengeboran sumur horizontal kedua pada lapisan LQR Yvonne-A tengah berlangsung dan menjadi bagian dari rencana kegiatan Work Program & Budget (WP&B) 2026.

Secara strategis, keberhasilan pengembangan LQR di Lapangan Yvonne-A membuka peluang besar bagi peningkatan produksi minyak nasional. Dengan pendekatan teknologi yang tepat dan koordinasi lintas institusi, reservoir yang sebelumnya dianggap kurang ekonomis kini berpotensi menjadi kontributor signifikan terhadap lifting minyak nasional dalam jangka pendek hingga menengah.

Di tengah tantangan penurunan alamiah produksi lapangan tua, pencapaian ini menjadi sinyal kuat bahwa inovasi teknologi dan kolaborasi tetap menjadi kunci menjaga ketahanan energi nasional.