OPINI: SWF, Life Cycle Economy dan Ketahanan Energi

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Ada satu penyakit kronis dalam sejarah manusia: kita lebih cepat menjadi kaya daripada menjadi bijak. Kita adalah spesies yang pandai mengeruk bumi, tapi gagap saat harus menyimpan hasilnya.

Dongeng Purba tentang Tabungan

Dahulu kala, Nabi Yusuf memberikan kursus singkat Risk Management paling legendaris di Mesir. Teorinya sederhana: kalau sedang panen raya, jangan semua gandumnya dijadikan pesta pora. Simpan sebagian. Itulah cikal bakal Sovereign Wealth Fund (SWF)—sebuah konsep “celengan nasional” agar negara tidak mendadak jadi pengemis saat musim paceklik tiba.

Masalahnya, manusia modern sering merasa lebih pintar dari Yusuf. Kita menyebutnya “pertumbuhan ekonomi,” padahal sering kali itu hanya cara keren untuk bilang: “Ayo habiskan semuanya sekarang, urusan besok biar dipikirkan anak cucu (kalau mereka masih punya oksigen).”

Siklus Hidup: Dari Perkasa Menjadi Jompo

Life Cycle Economy sebenarnya adalah sindiran alam semesta bagi mereka yang merasa akan selamanya muda. Al-Qur’an sudah membisikkannya: manusia itu berputar dari lemah, menjadi kuat, lalu kembali jompo.

Negara pun sama. Ada masa di mana sumur minyak menyembur layaknya air mancur, dan batubara dikeruk seolah-olah bumi adalah kue cokelat tak terbatas. Namun, ingatlah: energi adalah gandum modern. Dan sayangnya, gandum yang satu ini tidak hanya mengenal musim, tapi juga mengenal habis.

Satire untuk Kita: Negara yang bijak menyisihkan surplus untuk masa depan. Negara yang “kreatif” menghabiskan surplus hari ini untuk subsidi yang membakar masa depan, lalu bingung saat sumurnya mulai batuk-batuk kering.

Ketahanan Energi: Menabung atau Menunggu Mati?

Ketahanan energi sering kali disalahartikan sebagai “cari sumur baru.” Padahal, esensinya adalah menahan diri. Di era ini, lumbung Yusuf telah bermutasi menjadi tangki cadangan strategis dan dana abadi energi.

Kita sering lupa bahwa hidup bukan garis lurus menuju tak terhingga, melainkan lingkaran yang akan kembali ke titik nol. Peradaban memiliki usia. Seperti tubuh yang akan lelah, sumur-sumur kita pun memiliki batas kesabaran.

Investasi bukan soal pamer angka di bursa.

SWF bukan sekadar pajangan di laporan keuangan.

Keduanya adalah pengakuan dosa bahwa kita tidak berdaya melawan waktu.

Epilog: Warisan atau Sisa?
Kebijaksanaan ekonomi tertua sebenarnya bukan tentang seberapa banyak yang bisa kita ambil dari perut bumi hari ini, melainkan seberapa banyak sisa yang tidak kita sentuh agar anak-anak kita nanti tidak perlu belajar cara hidup di zaman batu.

Manusia yang bijak menyiapkan masa tua saat masih perkasa. Negara yang waras menyimpan harta saat komoditas sedang dipuja. Karena pada akhirnya, kesejahteraan sejati bukan tentang apa yang kita habiskan hari ini, melainkan tentang apa yang masih tersisa saat musim berubah dan pesta telah usai.

|A||N||S|
Dosen-GBUI
Buittenzorg, 8 Februari 2026

Verba volant, scripta manent (Yang terucap akan hilang, yang tertulis akan abadi—setidaknya sampai kertasnya habis terbakar krisis energi).