Zona 9 PHI Lampaui Target Produksi Migas 2025, Andalkan Inovasi Teknologi dan Kolaborasi Tim

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) mencatat kinerja produksi minyak dan gas bumi (migas) yang menggembirakan sepanjang 2025. Melalui empat entitas operasi di Zona 9, yakni PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS), PT Pertamina EP (PEP) Tanjung Field, PEP Sangasanga Field, dan PEP Sangatta Field, realisasi produksi berhasil melampaui target yang telah ditetapkan.

Sepanjang tahun 2025, keempat entitas tersebut membukukan produksi minyak sebesar 22,6 ribu barel per hari (MBOPD). Sementara itu, produksi gas tercatat mencapai 105,369 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Capaian ini menempatkan Zona 9 sebagai salah satu kontributor utama produksi PHI di Regional 3 Kalimantan.

Kinerja positif tersebut sekaligus mencerminkan konsistensi perusahaan dalam mendukung ketahanan energi nasional, sejalan dengan arah kebijakan pembangunan pemerintah.

Senior Manager Subsurface Development & Planning (SSDP) Zona 9, Supriady, menyampaikan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari penerapan inovasi dan teknologi dalam pengelolaan lapangan migas mature yang memiliki karakteristik kompleks.

Menurutnya, lapangan-lapangan migas yang sudah berumur memerlukan strategi yang presisi serta koordinasi lintas fungsi yang kuat. Inovasi teknologi dinilai menjadi kunci untuk menjaga tingkat perolehan (recovery) dan keberlanjutan produksi.

“Kami percaya bahwa inovasi dan teknologi memegang peran strategis dalam menjaga tingkat recovery dan keberlanjutan produksi lapangan migas yang telah mature,” ujarnya.

Ia menambahkan, capaian produksi tersebut merupakan hasil kolaborasi solid antara pekerja dan manajemen dalam mengelola aset subsurface melalui penerapan teknologi yang tepat guna. Untuk menjaga semangat kinerja, tim Zona 9 mengusung slogan “Anti Decline” atau antipenurunan produksi.

Di tingkat operasional, perusahaan juga secara konsisten mengadopsi teknologi berbasis praktik terbaik industri hulu migas, baik nasional maupun global. Langkah ini bertujuan menciptakan operasi yang efisien, adaptif, serta berorientasi pada pencapaian target produksi jangka panjang. Upaya tersebut turut diimbangi dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia secara berkelanjutan.

Sejumlah inovasi teknologi telah memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan produksi. Di antaranya, penerapan Through Tubing Electric Submersible Pump (TTESP) oleh PHSS yang mampu meningkatkan produksi sumur hingga 150 persen. Meski baru diterapkan pada empat sumur, teknologi ini telah memberikan dampak signifikan terhadap produksi minyak.

Selain itu, penggunaan teknologi Pertasolvent juga terbukti efektif meningkatkan produksi sumur hingga hampir empat kali lipat. Teknologi berbasis solvent ini digunakan untuk mengatasi masalah High Pour Point Oil (HPPO), yakni kondisi ketika titik tuang minyak lebih tinggi dibanding temperatur operasi pipa. Teknologi ini telah diterapkan di Lapangan Mutiara dan Pamaguan.

Untuk produksi gas, PHSS juga mengimplementasikan teknologi Capillary String yang mampu menekan potensi gangguan aliran serta meningkatkan stabilitas produksi sekitar 0,36 MMSCFD.

Di sisi lain, Pertamina EP Sangasanga mengembangkan inovasi Wellhead Compressor Mini Gas Compressor pada sumur-sumur borderless yang beririsan dengan wilayah kerja entitas Pertamina lainnya. Teknologi ini mampu meningkatkan produksi sumur bertekanan rendah hingga 15 kali lipat dibanding kondisi awal.

Kinerja produksi gas di lapangan TSS juga menunjukkan hasil positif dengan tingkat stabilitas produksi mencapai 117 persen dari target produksi 2025.

Secara operasional, pencapaian kinerja ini juga ditopang percepatan jadwal pengeboran dan intervensi sumur, dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan.

Supriady menegaskan, pendekatan operasional migas yang terintegrasi serta penguatan budaya keselamatan menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan kinerja Zona 9 dalam mendukung ketahanan energi nasional.

Sebagai informasi, PHI merupakan bagian dari Subholding Upstream Pertamina yang mengelola operasi dan bisnis hulu migas di Regional 3 Kalimantan, meliputi Zona 8, Zona 9, dan Zona 10. Dalam operasinya, perusahaan mengedepankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) untuk mewujudkan visi sebagai perusahaan migas kelas dunia.

Bersama SKK Migas, PHI juga menjalankan berbagai program tanggung jawab sosial dan lingkungan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, infrastruktur, hingga tanggap bencana. Program-program tersebut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sekaligus mendorong kontribusi energi Kalimantan untuk Indonesia.