Banda Aceh, Aceh, ruangenergi.com – Prospek lifting migas di bawah pengawasan Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) pada 2026 dinilai masih memiliki peluang peningkatan sepanjang didukung pengawasan ketat dan langkah operasional yang tepat. Namun, peningkatan target lifting tahun ini menjadi tantangan besar menyusul sejumlah kejadian tidak terduga sepanjang 2025.
Dikutip dari website BPMA, disebutkan pada 2025, beberapa peristiwa force majeure terjadi di wilayah kerja, antara lain bencana banjir serta insiden kebakaran Tangki F-2101 yang berdampak langsung pada kemampuan operasional produksi, khususnya lifting pada 2026.
Target lifting 2026 ditetapkan sebesar 1.880 BOPD untuk kondensat dan 48,40 MMSCFD untuk gas. Seluruh wilayah kerja yang saat ini berproduksi menjadi tulang punggung pencapaian target tersebut, yaitu WK A yang dioperasikan PT Medco E&P Malaka, WK B oleh PT Pema Global Energi, serta WK Pase yang dioperasikan Triangle Pase Inc.
Dampak bencana banjir dan longsor yang terjadi pada 2025 masih terasa terhadap performa produksi di 2026. Selain faktor tersebut, sejumlah tantangan lain juga berpotensi mempengaruhi capaian produksi, antara lain kebutuhan peremajaan fasilitas produksi, upaya mengurangi ketergantungan pada fasilitas pihak ketiga, serta ketersediaan peralatan pendukung kegiatan peningkatan produksi seperti drilling, workover, dan well service.
Pasca kebakaran Tangki F-2101 di Arun, distribusi kondensat juga memerlukan penyesuaian. Kondisi ini menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi strategi produksi ke depan.
Di sisi lain, terdapat potensi peningkatan produksi dari rencana penambahan wilayah kerja baru. Saat ini beberapa wilayah kerja berstatus open area dan telah menarik minat calon kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), baik dari dalam maupun luar negeri.
Berdasarkan target lifting WP&B 2026, produksi gas ditetapkan sebesar 48,40 MMSCFD dan produksi minyak sebesar 1.876 BOPD, dengan total lifting gabungan mencapai 10.519 BOEPD.
Namun, pasca insiden Tangki F-2101, dilakukan implementasi skema injeksi kondensat selama kurang lebih tiga bulan. Kebijakan ini berdampak pada penurunan produksi minyak menjadi 1.603 BOPD, sementara produksi gas tetap berada di level 48,40 MMSCFD. Dengan kondisi tersebut, total lifting gabungan tercatat sebesar 10.246 BOEPD.
Artinya, terdapat selisih penurunan lifting sekitar 273 BOEPD dibandingkan target WP&B 2026. Penurunan ini didominasi oleh berkurangnya produksi minyak akibat pelaksanaan injeksi kondensat selama periode pemulihan pasca insiden.
BPMA bersama KKKS saat ini terus mengupayakan langkah strategis untuk menjaga stabilitas produksi minyak pasca insiden Tangki F-2101. Langkah ini diharapkan mampu meminimalkan penurunan total lifting serta menjaga pencapaian target lifting WP&B 2026.













