Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Pasca insiden kebakaran dan ledakan pipa gas milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) pada awal Januari lalu, otoritas minyak dan gas nasional bergerak cepat untuk memastikan pemulihan produksi migas nasional tidak berlarut-larut.
Pada Kamis, 12 Februari 2026, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) bersama SKK Migas dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memanggil dua belas direktur utama perusahaan migas untuk membahas langkah konkret pemulihan produksi.
Pertemuan tingkat tinggi tersebut difokuskan pada strategi percepatan pemulihan produksi, khususnya bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) yang beroperasi di sepanjang jalur pipa gas TGI. Gangguan operasional akibat terhentinya aliran gas sebelumnya sempat berdampak signifikan terhadap aktivitas produksi di sejumlah wilayah kerja.
Ledakan pipa TGI tercatat mempengaruhi pasokan gas untuk sekitar dua belas K3S yang beroperasi di area terkait. Perusahaan yang terdampak antara lain Pertamina Gas Negara, Pertamina Hulu Rokan, Medco Energi, APGWS Kampar, Texcal Energy Mahato Inc., SPR Langgak, Bumi Siak Pusako, Imbang Tata Alam, serta PetroChina Jabung.
Beberapa lapangan bahkan mengalami penurunan produksi cukup tajam. APGWS Kampar dan Texcal Energy Mahato Inc. dilaporkan menjadi dua wilayah yang paling merasakan dampak penurunan output akibat terganggunya suplai gas operasional.
“Jadi yang terdampak akibat dari, eh, bocornya meledaknya pipa TGI kemarin itu, ini kan berimpact kepada pasokan gas untuk K3S yang ada di lokasi ada sekitar dua belas, nah dua belas K3S yang terdampak. Yang pertama, ya termasuk, ya, Pertamina Gas Negara, kan, yang tadi dipanggil nih. Ada Pertamina Hulu– Pertamina Hulu Rokan, Medco Energi, terutama APGWS Kampar juga tuh, kemarin kan dekat sampai dua ribu tuh, sekarang sudah turun lagi isinya, kemudian juga Texcal Energi Mahato, nah yang ada di enam ribu lima ratus dua tujuh ribu sekarang ke tiga ribu barel, nah, produksinya kan. SPR Langgak, Bumi Siak Pusako, Imbang Tata Alam, ini kan jadi banyak nih. Kemudian juga PetroChina Jabung, yang di Jambi. Jadi kan mereka dipanggil bagaimana kira-kira yang kemarin total lossnya kan lebih dari dua juta barel bang. Eh, itu dia, jadi eh, kemarin terakhir kan ketemu orang ini kan pada stres semua nih, sehingga bagaimana pasokan gas ini bisa lancar dan alhamdulillah kan sekarang udah lancar nih,” kata salah satu peserta rapat bercerita kepada ruangenergi.com.
Secara kumulatif, gangguan tersebut menyebabkan kehilangan potensi produksi yang diperkirakan mencapai lebih dari dua juta barel. Kondisi ini sempat memicu tekanan psikologis di kalangan pekerja lapangan akibat ketidakpastian operasional dan gangguan rantai pasok energi. Namun demikian, kondisi operasional kini dilaporkan mulai kembali normal seiring dengan pemulihan distribusi gas dan perbaikan infrastruktur yang dilakukan secara bertahap.
Menurut informasi yang diterima ruangenergi.com, para direktur utama yang dipanggil mengikuti rapat tersebut meliputi: PT Imbang Tata Alam; Texcal Energy Mahato Inc; PT Pertamina Hulu Energi. PT Pertamina Hulu Rokan; PT Pertamina Gas Negara Tbk; PT Transportasi Gas Indonesia; PT Medco Energi Internasional Tbk; PT APG Westkampar Indonesia; PT SPR Langgak;PT Bumi Siak Pusako; PT Energi Mega Persada;Petrochina International Jabung Ltd.
Pemerintah menegaskan bahwa koordinasi lintas lembaga dan pelaku industri akan terus diperkuat guna memastikan stabilitas pasokan energi nasional tetap terjaga. Forum pertemuan Kamis ini juga diharapkan menghasilkan peta jalan pemulihan produksi jangka pendek hingga menengah, sekaligus memperkuat aspek keselamatan operasional guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.












