Menuju Indonesia Emas 2045, PTK Ambil Peran Jaga Keandalan Armada dan Industri Maritim Nasional

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com – PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) menegaskan peran strategisnya dalam mendukung kebangkitan industri maritim nasional melalui penguatan layanan Marine Services pada Focus Group Discussion (FGD) Revitalisasi Galangan Kapal dan Pelayaran Indonesia. Forum yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri Indonesiabersama Indonesian National Shipowners’ Association dan Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia pada 10 Februari 2026 di Jakarta ini menjadi bagian penting dari konsolidasi industri menuju target Indonesia Emas 2045.

FGD tersebut mempertemukan pemangku kepentingan utama sektor maritim nasional, mulai dari kementerian terkait, asosiasi industri, operator armada, galangan kapal nasional, hingga BUMN sektor energi dan maritim. Kolaborasi lintas sektor ini mencerminkan pendekatan ekosistem yang utuh, di mana keberhasilan industri maritim tidak hanya ditentukan oleh kebijakan dan pembangunan kapal, tetapi juga oleh kesiapan operasi, pemeliharaan, serta keandalan armada dalam jangka panjang. Dalam konteks ini, layanan Marine Services menjadi penghubung strategis antara industrialisasi galangan kapal dan realitas operasional di laut.

Bagi PTK, revitalisasi galangan kapal nasional tidak hanya dimaknai sebagai peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga sebagai pemicu meningkatnya kebutuhan layanan pasca-konstruksi. Dorongan pembangunan kapal di dalam negeri diproyeksikan akan meningkatkan jumlah armada nasional secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan, khususnya untuk mendukung sektor energi, logistik, dan pelayaran. Kondisi tersebut secara langsung berdampak pada meningkatnya kebutuhan layanan marine support, inspection, maintenance, serta pengelolaan HSSE yang terintegrasi dan berkelanjutan agar armada dapat beroperasi secara optimal.

Direktur Utama PTK menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan armada nasional tidak berhenti pada saat kapal selesai dibangun dan diserahkan.

“Armada yang dibangun di dalam negeri harus dijaga keandalannya sepanjang siklus hidupnya. Keberhasilan tidak hanya diukur dari konstruksi, tetapi dari kemampuan kapal beroperasi secara aman, andal, dan berkelanjutan. Di sinilah PTK mengambil peran strategis pasca-konstruksi melalui layanan Marine Services yang berorientasi pada reliability dan HSSE,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan ini penting untuk memastikan investasi besar negara dan pelaku usaha di sektor maritim memberikan nilai tambah jangka panjang.

Pada fase operasi, pengelolaan armada menjadi faktor penentu karena secara umum biaya operasi dan pemeliharaan dapat mencapai sekitar 20–30 persen dari total biaya siklus hidup kapal. Tanpa dukungan layanan yang terstandar dan berkelanjutan, efisiensi dan keselamatan operasional berisiko menurun. Melalui pendekatan lifecycle mindset, PTK memastikan availability dan reliability armada serta infrastruktur maritim nasional tetap terjaga. Dengan demikian, PTK tidak hanya berperan sebagai penyedia jasa teknis, tetapi memperkuat posisinya sebagai strategic marine partner dalam agenda kebangkitan industri maritim nasional, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi klien, calon klien, dan masyarakat luas dalam mendukung pertumbuhan ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.