Empat Proyek Unggulan PHR Tuai Apresiasi Nasional, Perkuat Fondasi Ketahanan Energi

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Kinerja Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1 kembali mendapat sorotan positif. Empat proyek strategis perusahaan hulu migas ini meraih penghargaan dalam ajang Rapat Kerja Manajemen Proyek (RKMP) 2026 yang digelar SKK Migas pada 6 Februari di Sentul, Bogor. Penghargaan tersebut menjadi penegasan bahwa inovasi teknologi dan disiplin eksekusi proyek kini menjadi senjata utama menjaga produksi migas nasional tetap stabil.

Apresiasi diserahkan langsung oleh Deputi Eksploitasi SKK Migas Taufan Marhaendrajana bersama Kepala Divisi Manajemen Proyek Syaifudin kepada jajaran manajemen PHR. RKMP sendiri merupakan forum tahunan yang menilai kinerja proyek para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dari seluruh Indonesia.

Empat proyek yang diganjar penghargaan mencerminkan strategi terpadu PHR: meningkatkan perolehan minyak, mempercepat produksi, menekan biaya, hingga menuntaskan kewajiban pasca operasi.

Pertama, proyek CEOR Minas A mencatat sejarah sebagai injeksi kimia komersial pertama di Indonesia menggunakan teknologi Alkali-Surfaktan-Polymer (ASP). Proyek ini bahkan berhasil beroperasi lebih cepat dari jadwal POD. Selain menghidupkan kembali fasilitas yang mati hampir satu dekade, teknologi ini diproyeksikan meningkatkan recovery factor hingga 17 persen sekaligus memperpanjang umur lapangan raksasa seperti Minas dan Bekasap.

Kedua, program Well Connection mencatat kinerja impresif. Dari target 555 sumur pada 2025, realisasi mencapai 605 sumur. Strategi penjadwalan dinamis dan persiapan konstruksi awal berhasil memangkas waktu siklus proyek dari lebih 30 hari menjadi hanya 2–3 hari—sebuah lompatan efisiensi yang berdampak langsung pada stabilitas produksi.

Ketiga, proyek ASR (Abandonment and Site Restoration) membuktikan efisiensi biaya bisa berjalan seiring kepatuhan regulasi. Dengan dukungan digitalisasi data, dashboard monitoring, dan tim proyek khusus, PHR mampu menuntaskan kewajiban pasca operasi secara efektif sekaligus hemat anggaran. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga keekonomian pengembangan lapangan marginal di masa depan.

Keempat, proyek PoPE Padang Pancuran di wilayah Jambi Merang menunjukkan keberhasilan percepatan produksi. Lapangan ini onstream pada 23 Desember 2025 dengan target awal 67 barel per hari dan potensi puncak 379 barel per hari pada 2026. Percepatan dicapai lewat strategi pengadaan dini, pemanfaatan fasilitas eksisting, serta koordinasi intensif lintas pihak di tengah tantangan cuaca ekstrem dan kendala perizinan.

Direktur Utama PHR, Muhamad Arifin, menegaskan bahwa rangkaian penghargaan tersebut bukan sekadar prestasi proyek, melainkan bukti bahwa integrasi teknologi, manajemen proyek, efisiensi biaya, dan kolaborasi lintas fungsi adalah fondasi ketahanan energi nasional.

“Semua upaya ini bermuara pada satu tujuan: memastikan energi tetap tersedia untuk Indonesia,” ujarnya.

PHR sendiri merupakan salah satu kontributor terbesar produksi migas nasional. Di Regional 1 Sumatra saja, perusahaan mengelola wilayah operasi luas dari Aceh hingga Sumatra Selatan dan menyumbang sekitar sepertiga produksi minyak Subholding Upstream Pertamina.

Restrukturisasi organisasi yang rampung pada 2025—mengintegrasikan beberapa zona operasi ke dalam satu regional—turut memperkuat efisiensi dan koordinasi. Langkah ini sejalan dengan program swasembada energi pemerintah sekaligus mempertegas posisi PHR sebagai salah satu tulang punggung produksi migas nasional.

Intinya: empat proyek, satu pesan. Ketika inovasi, disiplin eksekusi, dan efisiensi berjalan serempak, ketahanan energi bukan sekadar target—melainkan capaian nyata.