Di Antara Lumpur dan Oli, Nono Menemukan Kembali Hidupnya

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Banda Aceh, Aceh, ruangenergi.com-Di sudut jalan lintas Medan–Banda Aceh, suara kunci pas beradu dengan logam terdengar bersahut-sahutan. Bau oli menguar di udara, bercampur dengan semangat hidup yang tak mudah padam. Di antara deretan sepeda motor yang diperbaiki, Mariono (43)—atau yang akrab disapa Nono—bergerak lincah. Tongkat ketiak yang setia menopang langkahnya tak pernah jauh dari sisi, namun keterbatasan itu tak pernah benar-benar menghambatnya.

Tangannya cekatan membuka mesin, matanya tajam membaca “penyakit” kendaraan. Seakan ia sedang berbicara dengan mesin-mesin itu—memahami keluhannya, lalu memperbaikinya dengan sabar.

Sudah enam tahun terakhir, bengkel menjadi dunianya. Dunia yang dulu tak pernah ia bayangkan. Sebelum itu, hidup Nono berjalan tanpa arah yang pasti. Ia tak memiliki pekerjaan tetap, bergantung pada keluarga, dan menjalani hari dengan ketidakpastian.

Semua berubah ketika ia mendapat pelatihan mekanik dari Pertamina EP Rantau Field. Bersama para penyandang disabilitas lainnya, Nono menjadi bagian dari kelompok bengkel difabel di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang.

Di tempat sederhana itu, ia menemukan bukan hanya pekerjaan—melainkan harga diri.

“Bengkel ini pemberi kehidupan bagi saya dan keluarga. Semenjak dapat pelatihan dan diberdayakan jadi mekanik, ekonomi saya jadi lebih baik,” ujarnya suatu siang.

Lebih dari sekadar penghasilan, bengkel itu memberi keberanian. Dari sana, Nono merasa cukup percaya diri untuk membangun kehidupan yang lebih utuh.

“Beberapa tahun jadi mekanik di sini kemudian saya menikah. Berani menikah karena sudah ada penghasilan dari bengkel ini,” katanya, tersenyum tipis.

Namun, hidup tak selalu berjalan mulus. Ujian berat datang pada 26 November 2025, ketika banjir bandang melanda Aceh Tamiang. Air bah menyapu bersih hampir semua yang ia miliki—termasuk bengkel yang menjadi tumpuan hidupnya.

Dalam hitungan hari, segalanya kembali ke titik nol.

“Semua barang yang saya miliki sudah hancur. Penghasilan saya pun tidak ada karena bengkel porak-peranda,” kenangnya.

Hari-hari setelah itu dilaluinya di pengungsian, bergantung pada bantuan orang lain—situasi yang mengingatkannya pada masa-masa sulit sebelum ia menjadi mekanik.

Namun Nono bukan orang yang mudah menyerah.

Setiap hari, ia kembali ke lokasi bengkel yang tertimbun lumpur. Bersama rekan-rekannya, ia bergotong royong membersihkan sisa-sisa kehancuran. Sedikit demi sedikit, harapan itu dibangun kembali—bersama dinding bengkel yang kembali berdiri.

“Saya bersyukur Pertamina bergerak cepat membantu kami. Bengkel yang hancur dibuka kembali. Barang-barang yang sudah raib dibeli lagi,” ujarnya.

Kehidupan pun perlahan kembali berdenyut.

Pembukaan kembali bengkel difabel itu bertepatan dengan program “Yuk Berbagi”, yang menghadirkan layanan ganti oli gratis bagi ratusan warga terdampak banjir. Sebanyak 282 botol oli dibagikan, sementara tujuh mekanik difabel—termasuk Nono—kembali bekerja, melayani masyarakat.

Bagi Nono, momen itu bukan sekadar kegiatan sosial. Itu adalah simbol kebangkitan.

Manager Community Involvement and Development (CID) PHR Regional 1 Sumatra, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan bahwa program bengkel difabel lahir dari keprihatinan terhadap tingginya angka penyandang disabilitas di Aceh Tamiang.

“Kami memberikan pelatihan terhadap puluhan orang difabel tentang mekanik. Lalu, muncul gagasan mereka ingin buat usaha, sehingga perusahaan membantu buatkan bengkel,” ujarnya.

Pasca banjir, perusahaan pun bergerak cepat memulihkan bengkel agar para anggota binaan dapat kembali produktif.

Sementara itu, dukungan juga datang dari Pertamina Lubricants yang turut menghadirkan bantuan oli gratis. Head CSR Pertamina Lubricants, Asep Saputra, menyebut langkah ini sebagai bagian dari upaya membantu masyarakat kembali beraktivitas.

Di balik semua itu, Nono tetap menjalani hidupnya dengan filosofi sederhana: madep mantep—teguh dan yakin—serta menjaga batin tetap kosong dari beban.

Bagi Nono, hidup bukan soal seberapa sempurna raga yang dimiliki. Melainkan seberapa kuat hati untuk terus melangkah, meski dengan tongkat di sisi.

Dan di bengkel kecil itu, di antara suara mesin dan bau oli, ia terus membuktikan: harapan selalu bisa diperbaiki—seperti mesin yang kembali hidup di tangannya.