Good News dari Kepala SKK Migas Djoko Siswanto: Biomassa Gantikan LPG di Balikpapan, Bukti Nyata Sinergi Migas dan Lingkungan

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Di tengah upaya peningkatan produksi migas nasional, kabar menggembirakan datang dari Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, yang melaporkan terobosan penting: pemanfaatan biomassa sebagai pengganti LPG bagi ratusan rumah tangga di Balikpapan.

Program ini digagas bersama Pertamina Hulu Mahakam (PHM) melalui inovasi Wasteco—waste to energy for community—yang mengubah gas metana dari sampah menjadi energi alternatif ramah lingkungan.

Berlokasi di TPA Manggar, Balikpapan, program ini telah mengalirkan energi biomassa ke hampir 400 rumah warga di sekitar lokasi. Gas metana yang sebelumnya menjadi emisi berbahaya kini dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengganti LPG.

Langkah ini tidak hanya menekan emisi, tetapi juga mengurangi ketergantungan masyarakat pada energi fosil rumah tangga. Inisiatif tersebut bahkan mendapat apresiasi langsung dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yang telah meninjau lokasi implementasi.

“Alhamdulilah K3S PHM disamping terus berupaya meningkatkan produksi migas nya juga berkontribusi signifikan terhadap lingkungan sekitar,”kata Djoko Siswanto dalam laporannyake jajaran Kementerian ESDM, seperti diceritakan kepada ruangenergi.com.

Tak hanya fokus pada produksi, PHM bersama SKK Migas terus memperkuat kontribusi sosial di wilayah operasi, khususnya di Kutai Kartanegara dan Kalimantan Timur.

Di sektor pendidikan, sejumlah program unggulan dijalankan secara konsisten:

  • Bantuan Pendidikan Mahakam: 100 mahasiswa menerima dukungan pendidikan pada 2025
  • Beasiswa Sobat Bumi Kalimantan: Kolaborasi dengan Pertamina Foundation membuka akses kuliah gratis
  • Program Sarjana Pesisir: Pendampingan siswa hingga lolos ke perguruan tinggi

Selain itu, peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal juga menjadi fokus. Bersama mitra seperti Eni dan PHSS, pelatihan serta sertifikasi welder dilakukan di Batam. Lulusan program ini langsung terserap dalam berbagai proyek industri.

Kontribusi lingkungan lainnya terlihat pada program konservasi Pesut Mahakam—spesies endemik Kalimantan yang terancam punah. Program ini dikembangkan sekaligus sebagai desa wisata berbasis ekologi, dan mendapat perhatian dari Kementerian Pariwisata.

Laporan ini menegaskan bahwa industri hulu migas tidak hanya berorientasi pada lifting produksi, tetapi juga pada keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat.

“Program-program ini diharapkan terus berlanjut dan memberi manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat, sekaligus menjadi berkah bagi peningkatan produksi migas nasional,” demikian semangat yang disampaikan dalam laporan tersebut.

Dengan sinergi antara SKK Migas dan Pertamina Group, optimisme pun menguat: produksi naik, masyarakat sejahtera, dan lingkungan tetap terjaga.

Bersama Kita Bisa. Lifting Naik: Bisa, Bisa, Bisa.