Jakarta, ruangenergi.com- Luas wilayah kerja hulu migas di Indonesia mencapai lebih dari 460 ribu km2. Saat ini fasilitas hulu migas meliputi 630 platform di onshore maupun offshore, 3 LNG plant, 12 LPG Plant dan 19 FPSO/FSO/FPU dengan dukungan lebih dari 20.300 km jaringan pipa.
Hingga saat ini sudah beroperasi sekitar 1.000 lapangan migas dan sekitar 30.000 sumur minyak. Jumlah wilayah kerja yang berkontrak mencapai 174, dengan 98 wilayah kerja sudah berproduksi dan 76 masih dalam tahap eksplorasi.
Indonesia memiliki potensi minyak dan gas bumi (Migas) yang masih menjanjikan, karena dari 128 cekungan, yang sudah berproduksi adalah 20 cekungan, 8 cekungan sudah di bor namun belum berproduksi, 19 cekungan mengindikasikan ada cadangan hydrocarbon, 13 cekungan sudah di bor dan tidak ada temuan hydrocarbon serta 68 cekungan belum di bor.
Banyak success story di sektor hulu migas di tahun 2023. Mulai dari peningkatan pengeboran 38 sumur ekplorasi tajak dengan rasio sukses 54%, pengembangan 799 sumur, naiknya besaran nilai investasi hingga USD0,9 miliar, agresivitas eksplorasi di laut dalam, sampai penemuan big-fish giant discovery .
Langka-langkah di atas mampu menembus 123,5% Rasio Penggantian Cadangan atau Reserve Replacement Ratio (RRR) di tahun 2023. Capaian ini dipastikan menambah umur cadangan migas. Mengomparasi cadangan baru dengan cadangan migas yang sudah diambil. Ini bukti bahwa cadangan migas di Indonesia terklasifikasi aman.
Menurut Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang berlaku saat ini, kebutuhan minyak di tahun 2050 akan mencapai sekitar 3,97 juta minyak per hari atau meningkat sekitar 250% dibandingkan konsumsi saat ini.
Maka dengan rata-rata produksi minyak berada dibawah volume kebutuhannya, maka menyebabkan impor minyak terus meningkat dan menjadi beban bagi negara. Produksi gas yang melebihi konsumsi di dalam negeri di ekspor dalam bentuk LNG dan memberikan penerimaan langsung kepada negara sehingga berdampak positif bagi upaya mendukung pembangunan nasional.
Oleh karena itu tagline LTP target 2030 yaitu produksi minyak 1 juta barel per hari (BOPD) dan produksi gas 12 miliar kaki kubik per hari (BSCFD) adalah dalam rangka meningkatkan ketahanan energi dan mengurangi current account deficit (CAD). Untuk mencapai tujuan tersebut maka membutuhkan peningkatan investasi sehingga setiap dibutuhkan terus dukungan dan kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan daya saing investasi hulu migas di Indonesia.
Mengutip portal SKK Migas, disebutkan bahwa untuk mewujudkan target LTP 2030, SKK Migas telah menyusun rencana strategis Indonesia Oil & Gas (IOG) 4.0 dengan cita-cita dapat mencapai level terbaik dalam produksi migas, peningkatan kapabilitas nasional dan lingkungan berkelanjutan.
Target yang diusung adalah produksi 1 juta barel minyak per hari dan 12 miliar kaki kubik gas per hari, peningkatan multiplier effect dan memastikan keberlanjutan lingkungan.
RENSTRA IOG 4.0 terdiri 10 pillar dan enablers, 25 program kunci, lebih dari 80 target dan lebih dari 200 rencana aksi.
Pemerintah telah memberikan dukungan bagi upaya peningkatan produksi minyak dan gas bumi. Target peningkatan produksi migas di tahun 2030 yaitu produksi minyak 1 juta barel per hari (BOPD) dan gas 12 miliar kaki kubik per hari (BSCFD) telah menjadi lampiran pidato Presiden Republik Indonesia dalam rangka HUT ke-76 Republik Indonesia dengan 5 strategi utama :
- Optimalisasi produksi lapangan existing
- Transformasi sumber daya contigent ke Produksi
- Mempercepat chemical enhanced recovery (EOR)
- Menggalakkan kegiatan eksplorasi migas, dan
- Mempercepat peningkatan regulasi melalui one door service policy (ODSP) dan insentif hulu migas