Menyambung Arus Hijau: Peran Krusial PGN dalam Transisi Energi dan Penguatan Ekonomi Nasional

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com- Di tengah seruan global untuk beralih dari energi kotor, Indonesia memiliki aset strategis: gas bumi. Sumber daya ini dikenal sebagai “energi transisi” yang ideal—lebih bersih dari batu bara atau BBM, menjadikannya jembatan menuju masa depan energi yang lebih hijau.

Dalam orkestrasi perubahan ini, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Subholding Gas PT Pertamina (Persero), memegang peranan sentral. PGN tidak hanya mendistribusikan gas, tetapi juga merajut fondasi kuat yang menyokong transisi energi dan penguatan ekonomi nasional sekaligus.

PGN telah bekerja keras menjadikan gas bumi sebagai tulang punggung baru energi nasional. Caranya? Dengan membangun infrastruktur yang kokoh dan berkelanjutan.

Jaringan pipa gas PGN kini membentang luas, dari Sumatera dan Jawa, hingga merambah Kalimantan dan wilayah timur. Jaringan ini adalah urat nadi yang mengalirkan energi efisien ke berbagai sektor industri strategis, mulai dari baja, pupuk, keramik, hingga pembangkit listrik.

Untuk menjangkau wilayah yang belum terhubung pipa konvensional, PGN mengembangkan rantai pasok LNG (Liquefied Natural Gas) dan CNG (Compressed Natural Gas). Ini adalah komitmen nyata PGN dalam mewujudkan Trilema Energi—yakni menjamin Kemandirian Energi (Energy Security), Keadilan Energi (Energy Equity), dan Kelestarian Lingkungan (Environmental Sustainability)—di seluruh pelosok negeri.

Daya Saing Industri Berkat Nyala Biru Stabil

Bagi sektor industri, ketersediaan energi yang efisien dan stabil adalah kunci daya saing. PGN memberikan solusi yang membawa keuntungan ganda:

Efisiensi Biaya Operasional: Gas bumi pipa umumnya lebih kompetitif dan stabil dari sisi harga dibanding BBM atau batu bara. Ini krusial untuk menekan biaya produksi dan menjaga kinerja industri.

Keberlanjutan Lingkungan: Gas bumi menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah, membantu industri memenuhi target dekarbonisasi.

Di kawasan industri utama Jawa dan program gasifikasi pembangkit listrik PLN di kawasan timur Indonesia, PGN secara masif menyediakan pasokan, mendukung Program Gasifikasi Nasional yang bertujuan mengurangi impor energi dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Pengembangan infrastruktur terus dilakukan, termasuk proyek Pipa Tegal–Cilacap dan rencana LNG storage di Pulau Jawa, untuk memastikan pasokan yang masif dan merata.

“GasKita”: Energi Bersih dari Negeri untuk Rakyat

Perjuangan PGN tidak berhenti di gerbang pabrik. Gas bumi juga dibawa masuk hingga ke dapur-dapur rumah tangga melalui program unggulan Jaringan Gas Bumi untuk Rumah Tangga (Jargas), yang kini dikenal dengan brand GasKita.

Program Jargas adalah wujud nyata dari ketersediaan dan keterjangkauan energi bersih. Melalui pipa, gas yang aman, hemat, dan ramah lingkungan kini mengalir 24 jam tanpa putus, langsung dari keran kompor.Penghematan nyata di dapur keluarga dimana harga gas bumi pipa jauh lebih murah dibandingkan LPG nonsubsidi. Praktis dan Aman: Masyarakat tidak perlu repot menukar tabung gas. Gas dialirkan secara kontinu melalui pipa dengan sistem keamanan teruji.

Memperkuat Ketahanan Energi: Setiap sambungan rumah yang terpasang berarti berkurangnya ketergantungan negara terhadap impor LPG, sebuah langkah strategis untuk menghemat devisa. PGN bercita-cita menambah 450 ribu sambungan rumah tangga sampai lima tahun mendatang, yang berpotensi menurunkan emisi karbon sekitar 380 ribu ton CO² di tahun 2034 jika mencapai 1 juta sambungan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan keberhasilan program ini. Dalam enam tahun terakhir, jumlah sambungan Jargas rumah tangga telah meningkat lebih dari tiga kali lipat, mencapai 1,14 juta sambungan pada tahun 2022 dari 373,19 ribu sambungan pada 2017.

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) mencatat, hingga akhir 2024, lebih dari 815 ribu rumah tangga tersambung dengan jaringan gas (jargas), dengan panjang pipa mencapai 20 ribu kilometer (km).Pembangunan jargas rumah tangga merupakan salah satu dari lima strategi PGN untuk mengurangi penggunaan bahan bakar tinggi emisi, seperti LPG dan kerosin.

Jika jumlah pelanggan jargas mencapai 1 juta Sambungan Rumah (SR), maka berpotensi dapat penurunan emisi karbon sekitar 380 ribu ton CO² di tahun 2034.

Melangkah ke Energi Masa Depan: Biomethane dan Hidrogen

PGN tak berpuas diri hanya menjadi distributor gas konvensional. Mereka aktif melakukan strategi “Step Out” dengan masuk ke bisnis green energy atau energi turunan gas bumi lainnya.

Salah satu yang menarik adalah pengembangan biomethane, yang berasal dari limbah agrikultur seperti sawit, jerami, dan kotoran hewan. Biomethane ini nantinya akan diinjeksi ke dalam jaringan pipa gas bumi eksisting, menandakan integrasi energi terbarukan ke dalam infrastruktur gas.

Selain itu, PGN juga mengembangkan bisnis turunan gas bumi lainnya seperti amonia dan hidrogen (H2). Langkah ini menunjukkan kesiapan PGN untuk menjadi garda terdepan dalam menghadapi era energi masa depan yang didominasi oleh solusi nol emisi.

Dari jaringan pipa baja yang kokoh menopang industri strategis hingga pipa kecil yang mengalirkan nyala biru di dapur keluarga, PGN berdiri tegak. Dengan memanfaatkan kekayaan gas bumi Indonesia secara optimal dan membuka diri pada energi hijau baru, PGN tidak hanya mendistribusikan energi, tetapi juga merajut harapan akan masa depan Indonesia yang ditenagai oleh energi yang lebih hijau, tangguh, dan berkelanjutan.

Infrastruktur Kunci Suplai Pemerataan Gas Bumi

Direktur Jenderal (Dirjen) Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman menyampaikan bahwa ketersediaan infrastruktur menjadi kunci dalam suplai pemerataan gas bumi di Indonesia.

“Bagaimana gas itu kalau kita punya sumber daya alam bisa sampai kepada konsumen, jadi ini kuncinya adalah ketersediaan infrastruktur,” ucap Laode di acara ‘Focus Group Discussion Keberlanjutan Gas Bumi untuk Industri Nasional : Sinergi Kebijakan, Pasokan, dan Daya Saing’ yang digelar di Menara Kadin, Jakarta, Selasa (7/10/2025).

Laode menjelaskan, pada 2023 Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM telah menyelesaikan satu segmen pipa dari Cirebon-Semarang (CISEM), namun segmen pipa tersebut sejauh ini baru sampai di wilayah Batang. Oleh karena itu, Laode menyebut bahwa kawasan industri Batang saat ini sudah menikmati gas dari wilayah Jawa Timur.

“Saat ini kami juga sedang menyelesaikan 245 kilometer (segmen pipa) dari Batang sampai Kandanghaur Timur dan Insya Allah akan selesai pembangunannya pada April tahun 2026. Sehingga gas yang di Jawa Timur melimpah, kita bisa kirim kelebihannya ke wilayah Jawa bagian Barat,” ungkapnya.

Terpisah, Pelaksana Tugas Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas, Agung Kuswandono, menegaskan jaringan gas bumi segera akan melintas ke beberapa kota yang dilewati oleh pipa gas Cisem II. Arahan dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia agar kota-kota yang dilewati pipa CISEM bisa mendapatkan jaringan gas bumi (jargas) ke rumah-rumah penduduk.

“Ada banyak Pemda (Pemerintah Daerah) yang dilewati pipa CISEM, yakni Semarang, Kendal, Batang, Pekalongan, Brebes, Tegal , Pemalang, Cirebon sampai ujungnya Indramayu. Nah arahan Pak Menteri ESDM di sana akan dipasang Jargas (Jaringan Gas Bumi) agar masyarakat menikmati gas yang lewat dari pipa CISEM,”urai Agung dengan wajah gembira.

Dengan mengalirnya “energi bersih” melalui gas bumi ke mulut kompor di rumah-rumah penduduk yang disalurkan lewat pipa-pipa jaringan gas, akan ada penghematan nyata di dapur keluarga dimana harga gas bumi pipa jauh lebih murah dibandingkan LPG nonsubsidi.Masyarakat tidak perlu repot menukar tabung gas. Gas dialirkan secara kontinu melalui pipa dengan sistem keamanan teruji.