Bukan Sekadar Bisnis: Komitmen ESG PHE Ogan Komering Menguatkan Jati Diri Budaya Transmigran di Prabumulih

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Prabumulih, Sumsel, ruangenergi.com — Denting lembut gamelan khas Bali menggema dari balai desa Makarti Jaya di awal November lalu. Suara riang itu berpadu dengan langkah percaya diri para remaja yang berbaris rapi dalam balutan busana adat, menampilkan tarian yang sarat makna.

Momen tersebut adalah puncak dari Festival Budaya Sekaa Nguda Makarti Jaya, sebuah ajang yang tidak hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga simbol bangkitnya kembali tradisi yang sempat meredup. Kegiatan ini terlaksana berkat dukungan penuh dari PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Ogan Komering.

Bagi PHE Ogan Komering, dukungan terhadap pelestarian budaya ini adalah bagian integral dari penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Program ini menegaskan bahwa komitmen perusahaan melampaui kontribusi ekonomi semata, namun juga merangkul aspek sosial dan spiritual masyarakat.

“Pertamina melalui PHE Ogan Komering terus berupaya menghadirkan program yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat, tidak hanya secara ekonomi tetapi juga sosial dan budaya,” ujar Iwan Ridwan Faizal, Manager Community Involvement & Development (CID) Regional 1.

Inti dari upaya ini adalah Rumah Belajar Sekaa Nguda. Didirikan sebagai wadah kolaborasi lintas generasi, rumah belajar ini secara konsisten membimbing pemuda-pemudi desa untuk kembali menguasai seni tradisional, seperti tari dan gamelan khas Bali, yang diwariskan oleh leluhur mereka sebagai masyarakat transmigran.

Di bawah naungan Rumah Belajar, bunyi gong dan kendang yang dulu nyaris senyap kini kembali berdenyut kencang. Tradisi yang sempat terancam ditinggalkan kini dirawat dengan penuh semangat. Seniman lokal menjadi mentor yang memandu para remaja untuk belajar, berkreasi, dan menampilkan karya seni yang membanggakan daerah.

Kolaborasi ini pun menghasilkan dampak nyata pada pembentukan karakter generasi muda. I Wayan Suada, Kepala Desa Makarti Jaya, tak kuasa menyembunyikan rasa bangganya melihat wujud nyata gotong royong dan cinta budaya yang ditunjukkan warganya.

“Terima kasih kepada PHE Ogan Komering. Anak-anak kami tidak hanya belajar menari, tetapi mereka belajar disiplin, kerja sama, dan cinta akar budayanya,” tutur I Wayan Suada, mengakui bahwa festival dan rumah belajar ini telah menjadi ruang yang sangat efektif.

Festival Sekaa Nguda tidak hanya merayakan masa lalu, tetapi juga membangun masa depan. Selain melestarikan seni, program ini juga mengembangkan keterampilan ekonomi kreatif, mendorong pemuda desa menjadi lebih produktif dan memiliki daya saing.

Juli Karyanto, Pjs Field Manager PHE Ogan Komering, berharap kegiatan semacam ini dapat berkelanjutan. “Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus menumbuhkan semangat berkarya dan memperkuat karakter generasi muda agar mampu berdaya saing tanpa meninggalkan akar budaya daerah,” katanya.

Saat momen penutupan festival, di bawah cahaya temaram, para penari muda tampil memukau, seakan tengah mengisahkan perjuangan panjang masyarakat Desa Makarti Jaya. Kisah tentang keharmonisan antara memegang teguh tradisi dan hidup di tengah kemajuan masa kini—sebuah kisah yang berdenyut berkat sinergi antara perusahaan dan komunitas.