Prabumulih, Sumsel, ruangenergi.com— PT Pertamina EP (PEP) Adera Field menorehkan capaian gemilang di awal 2026. Lapangan migas yang berada di bawah pengelolaan PEP Zona 4 ini berhasil mencatatkan produksi minyak sebesar 5.214 barel per hari (BOPD), tertinggi sejak pertama kali dikelola Pertamina pada 1983.
Rekor produksi ini dicapai berkat keberhasilan pengembangan Struktur Benuang, yang kembali menunjukkan tajinya setelah puluhan tahun berproduksi. Capaian tersebut sekaligus menjadi kontribusi signifikan PEP Zona 4 dalam mendukung pemenuhan kebutuhan energi nasional.
Tak hanya minyak, kinerja produksi gas Adera Field juga menunjukkan tren impresif. Hingga 30 November 2025, produksi gas tercatat mencapai 19,15 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD), atau 233 persen dari target RKAP 2025.
General Manager PEP Zona 4, Djudjuwanto, mengungkapkan bahwa lonjakan produksi ini merupakan hasil dari strategi pengembangan yang terukur dan inovatif.
“Strategi peningkatan produksi Adera terletak pada keberhasilan pengeboran di Cluster Benuang. Pada September 2025, lapangan ini mencapai peak produksi di angka 5.214 BOPD,” ujar Djudjuwanto.
Struktur Benuang sejatinya bukan lapangan baru. Lapangan ini telah berproduksi sejak 1941 dan sempat mencapai puncak produksi pada 1984 dengan 3.189 BOPD minyak dan 80 MMSCFD gas. Namun, seiring penurunan alami lapangan, produksinya terus merosot.
Kebangkitan kembali Struktur Benuang dimulai pada 2017, ketika Pertamina melakukan berbagai program well intervention dan well service. Hasilnya mulai terlihat signifikan pada 2024, dengan produksi minyak mencapai 3.118 BOPD dan gas 15,23 MMSCFD.
Salah satu kunci peningkatan produksi terbaru adalah penerapan metode batch drilling onshore, yang untuk pertama kalinya diimplementasikan di lapangan darat Struktur Benuang. Metode ini memungkinkan pengeboran beberapa sumur secara berkelompok dalam satu lokasi, dengan rig yang dapat berpindah antar sumur tanpa bongkar pasang peralatan, sehingga lebih efisien dari sisi waktu dan biaya.
Selain itu, PEP Adera Field juga menerapkan inovasi Sectorization Zoning Model (SZM), sebuah metode pemetaan area potensial berdasarkan kualitas reservoir dan kandungan hidrokarbon melalui peta Hydrocarbon Pore Volume (HCPV).
Tak berhenti di situ, optimalisasi produksi juga didukung pemanfaatan teknologi Velocity String, yakni pemasangan pipa berdiameter kecil di dalam tubing produksi untuk mempercepat aliran fluida dari reservoir ke permukaan. Teknologi yang pertama kali diterapkan di Zona 4 ini sedang digunakan pada kegiatan workover sumur BNG-068 sejak Desember 2025, dengan potensi tambahan produksi 83 BOPD minyak dan 3,82 MMSCFD gas.
Menjelang akhir 2025, Adera Field juga mengoperasikan empat sumur baru—BNG-B6, ABB-T5, ABB-T2, dan ABB-U1—yang berpotensi menambah produksi hingga 388 BOPD minyak dan 1,8 MMSCFD gas.
Menurut Djudjuwanto, capaian ini tidak lepas dari kerja sama solid seluruh tim serta dukungan para pemangku kepentingan.
“Kami sangat berterima kasih atas dukungan pemerintah, masyarakat, dan seluruh mitra kerja. Pencapaian ini merupakan bagian dari upaya Pertamina dalam menjaga ketahanan energi nasional,” ujarnya.
Ia menegaskan, seluruh peningkatan produksi dilakukan dengan tetap mengutamakan aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) serta menjunjung tinggi tata nilai AKHLAK.
Keberhasilan PEP Adera Field ini sekaligus memperkuat peran PHR Regional Sumatra Zona 4 dalam mendukung target nasional 1 juta barel minyak per hari pada 2030, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.












