Ahai! Begini Cara Petrogas dan SKK Migas Beri Kesempatan Kedua bagi Lapangan Walio

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Sorong, Papua Barat, ruangenergi.com-Asa baru muncul dari perut bumi Papua Barat Daya. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Petrogas (Basin) Ltd., resmi memulai babak baru pengelolaan sumur tua dengan melaksanakan suntikan perdana proyek Pilot Walio Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) di Kabupaten Sorong, Selasa (30/12/2025).

Langkah ini bukan sekadar rutinitas teknis, melainkan sebuah terobosan untuk “memeras” sisa minyak yang terperangkap di celah batuan Lapangan Walio—salah satu lapangan minyak legendaris dan terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia Timur.

Metode CEOR yang diterapkan di Wilayah Kerja (WK) Kepala Burung ini bekerja dengan cara menyuntikkan bahan kimia khusus (surfaktan-polimer) ke dalam reservoir atau lapisan batuan di bawah tanah. Tujuannya sederhana namun krusial: mendorong minyak yang tersisa dan sulit naik secara alami agar bisa mengalir dan diproduksikan kembali.

Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, yang memimpin prosesi tersebut menegaskan bahwa proyek ini adalah tonggak sejarah penting (milestone).

“Proyek ini membuktikan bahwa lokasi remote dan jauh bukan menjadi hambatan. Dengan komitmen, dedikasi, dan kerja keras, semua persiapan proyek dapat dilaksanakan dengan baik,” ujar Rikky penuh optimisme.

Menurut Rikky, jika pilot project ini sukses memenuhi kriteria teknis, teknologi ini akan diperluas ke skala komersial. Dampaknya tak main-main: menambah cadangan baru, memperpanjang usia produksi lapangan tua, hingga mendatangkan profit bagi kontraktor dan pendapatan bagi negara.

Secara teknis, proyek ini menyasar Zona Reservoir Kais, sebuah formasi batuan karbonat yang sudah “matang” dan telah berproduksi selama lebih dari 40 tahun.

Pola yang digunakan adalah injeksi 5-titik (5-spot injection pattern), yang terdiri dari satu sumur injeksi dikelilingi empat sumur produksi. Operasi ini didukung fasilitas canggih, mulai dari unit injeksi surfaktan-polimer hingga sistem pengolahan air khusus. Diperkirakan, proyek ini akan berlangsung selama 30 hingga 35 bulan hingga evaluasi akhir selesai.

President RH Petrogas Companies in Indonesia, Ferry Hakim, menyambut antusias dimulainya proyek yang juga merupakan bagian dari pemenuhan Komitmen Kerja Pasti (KKP) ini.

“Kesuksesan proyek ini akan membuka peluang besar bagi Petrogas (Basin) Ltd. dalam mengembangkan penerapan CEOR di area yang lebih luas, serta memperkuat rencana jangka panjang untuk memaksimalkan oil recovery,” jelas Ferry.

Lebih jauh, keberhasilan injeksi kimia di pelosok Papua ini diharapkan menjadi “cambuk” inspirasi bagi operator migas lain di wilayah yang infrastrukturnya lebih mapan, seperti Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, untuk berani menerapkan teknologi serupa demi ketahanan energi nasional.