Ahai! Evakuasi Dramatis Perwira Pertamina dari Irak, Tempuh Jalur Darat–Udara Selama 14 Hari

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) berhasil mengevakuasi 19 perwira yang bertugas di kawasan Timur Tengah di tengah situasi geopolitik yang memanas. Sebanyak 11 perwira dari Basra, Irak, dan 8 perwira dari Dubai, Uni Emirat Arab, akhirnya tiba dengan selamat di Jakarta setelah melalui proses perjalanan panjang selama sekitar 14 hari.

Evakuasi berlangsung kompleks akibat penutupan sejumlah bandara internasional di kawasan, termasuk Kuwait City, Dubai, dan Doha, yang memaksa tim melakukan penyesuaian rute secara bertahap.

Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Awang Lazuardi menyampaikan bahwa dinamika geopolitik di Timur Tengah memang memberikan dampak terhadap operasional perusahaan, khususnya di Irak.

“Geopolitik yang dinamis tentu berpengaruh bagi operasi kita di Irak. Alhamdulillah karena koordinasi yang sangat baik dari PIEP, PHE, Pertamina dan dukungan Kementerian Luar Negeri serta KBRI di sejumlah negara, teman-teman bisa pulang dengan selamat,” ujarnya.

Evakuasi Lintas Negara

Proses evakuasi diawali dengan perjalanan darat yang ditempuh para perwira dari Basra menuju perbatasan Safwan sebelum memasuki wilayah Kuwait. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Dammam, Arab Saudi.

Dari kota tersebut, para perwira melanjutkan perjalanan udara menuju Jeddah sebelum akhirnya diterbangkan ke Indonesia. Sebagian personel tiba di Jakarta pada 10 Maret 2026, sementara sisanya mendarat sehari kemudian, 11 Maret 2026.

Direktur Utama PIEP Syamsu Yudha menegaskan bahwa keselamatan perwira merupakan prioritas utama perusahaan dalam setiap situasi.

Menurutnya, perusahaan menjalankan seluruh prosedur Health, Safety, Security and Environment (HSSE) serta Business Continuity Plan (BCP) secara disiplin dan terkoordinasi dengan Pertamina Holding, Subholding Upstream, serta otoritas terkait.

“Kami juga terus memonitor situasi secara real-time guna memastikan perlindungan optimal bagi seluruh personel,” kata Syamsu.

Ia menambahkan bahwa perusahaan juga melakukan asesmen terhadap berbagai contingency plan untuk rute evakuasi, sehingga apabila terjadi penutupan wilayah udara di masa depan, proses evakuasi dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.

Aktivasi Tim Darurat

Langkah cepat dilakukan oleh Pertamina Irak Eksplorasi & Produksi (PIREP) dengan mengaktifkan Emergency Response Team (ERT) segera setelah muncul informasi mengenai serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang meningkatkan tensi keamanan kawasan.

Selain melakukan pemantauan intensif, PIREP juga memperkuat komunikasi dan koordinasi strategis dengan KBRI Baghdad, KBRI Kuwait City, KBRI Riyadh, KBRI Abu Dhabi, serta Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia untuk memantau perkembangan situasi dan mengantisipasi dinamika keamanan di Timur Tengah.

Langkah cepat Pertamina ini bahkan mendapat apresiasi dari diaspora Indonesia yang bekerja di berbagai perusahaan minyak internasional di kawasan tersebut.

Mereka menilai respons Pertamina sangat sigap dalam memastikan keselamatan pekerja di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu.

Komunikasi dengan Keluarga

Selain memastikan keselamatan personel, PIEP juga secara proaktif menghubungi keluarga para perwira untuk menyampaikan kondisi terkini secara langsung. Perusahaan juga membuka layanan hotline komunikasi selama 24 jam guna memastikan keluarga memperoleh informasi dan dukungan yang dibutuhkan selama proses evakuasi berlangsung.

Aset Strategis di Irak

Sebagai informasi, PIREP mengelola kegiatan eksplorasi dan produksi minyak di West Qurna-1 Field (WQ-1) yang berlokasi sekitar 50 kilometer barat laut Kota Basra, Irak.

Sejak 2023, Pertamina melalui PIREP memiliki Participating Interest (PI) sebesar 20% di lapangan tersebut, salah satu super giant oil field terbesar di dunia.

Operasi di blok ini dijalankan menggunakan skema Technical Service Contract (TSC) yang berbeda dengan skema Production Sharing Contract (PSC) yang lazim digunakan di Indonesia. Dalam skema TSC, perusahaan memperoleh pembayaran atas jasa teknis yang diberikan, sedangkan pada PSC perusahaan menanggung risiko investasi dengan imbal hasil berupa bagi hasil produksi.

Saat ini pengelolaan West Qurna-1 dilakukan bersama sejumlah mitra, antara lain PetroChina sebagai operator utama, Basra Oil Company, Itochu, dan OEC sebagai state partner.