Ahai! “No AMDAL, No Project”: Janji Bos SKK Migas di Senayan hingga Kabar Baik Blok Masela

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, membawa dua pesan besar ke hadapan Komisi XII DPR RI, Rabu (11/2/2026). Di Gedung Parlemen Senayan, Djoko menegaskan sikap tanpa kompromi terhadap aturan lingkungan sekaligus meniupkan angin segar terkait tren produksi migas nasional yang mulai bangkit.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) tersebut, Djoko memastikan bahwa lampu hijau operasional hulu migas sangat bergantung pada satu dokumen krusial: Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

Djoko menekankan bahwa SKK Migas tidak akan mengizinkan proyek berjalan tanpa dokumen lingkungan yang lengkap. Hal ini bukan sekadar formalitas, melainkan benteng utama keselamatan industri dan perlindungan alam.

“Sebagai contoh, pembangunan pipa WNTS (West Natuna Transportation System) sudah mendapatkan AMDAL. Alhamdulillah prosesnya lebih cepat,” ujar Djoko.

Lebih lanjut, ia memberikan bocoran mengenai perkembangan salah satu proyek energi terbesar di Indonesia, yakni Blok Masela.

“Nah besok, kami akan menerima juga rencana AMDAL untuk proyek Masela, proyek terbesar sepanjang sejarah,” tambahnya dengan nada optimis.

Selain isu lingkungan, sorotan utama rapat tertuju pada kinerja produksi (lifting) migas. Setelah sekian lama terjebak dalam tren stagnasi, sektor hulu migas kini mulai menunjukkan grafik positif.

Perbaikan angka lifting ini memicu diskusi hangat. Anggota Komisi XII meminta SKK Migas membuka dapur data mereka: Apa rahasia di balik kenaikan ini? Apakah murni karena sumur baru atau faktor lain?

Menjawab hal tersebut, Djoko menjelaskan bahwa kenaikan produksi tidak terjadi secara “sulap”, melainkan hasil kerja keras eksplorasi dan teknologi.

“Peningkatan produksi tetap membutuhkan upaya eksplorasi dan pengembangan lapangan baru. Kami mencatat kebutuhan tambahan puluhan sumur untuk mengejar target produksi nasional,” jelas Djoko. Ia menegaskan bahwa seluruh data yang dipaparkan adalah data institusional resmi yang menjadi rujukan kebijakan negara.

Tahun 2026 diproyeksikan menjadi tahun yang sibuk bagi sektor hulu migas. SKK Migas menargetkan delapan proyek hulu migas akan mulai beroperasi (onstream) tahun ini.

Dengan total investasi mencapai ratusan juta dolar AS, kedelapan proyek ini diharapkan menjadi “amunisi” baru untuk menopang ketahanan energi nasional.

Di sisi lain, percepatan proyek gas raksasa Masela (Abadi) terus didorong menuju tahap konstruksi segera setelah urusan AMDAL rampung. Kombinasi antara kepatuhan lingkungan yang ketat dan agresivitas dalam eksplorasi ini diharapkan menjadi kunci kebangkitan kembali kejayaan migas Indonesia.