Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Tren peningkatan kecelakaan migas dalam dua tahun terakhir diakui menjadi sinyal bahaya serius bagi industri energi nasional. Bagi Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas), fakta ini bukan sekadar data—melainkan alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan untuk berbenah.
“Regulasi dan pedoman yang sangat baik di atas kertas belumlah cukup jika tidak diiringi pengawasan ketat dan implementasi budaya di tingkat operasional,” tegas Direktur Teknik dan Lingkungan Migas, Noor Arifin Muhammad, dikutip dari website MIGAS.
Pernyataan tersebut menyoroti persoalan klasik yang masih membayangi sektor migas: jurang lebar antara aturan dan praktik di lapangan.
Kesadaran itu menjadi latar kuat digelarnya pembahasan rencana kerja Tim Independen Pengendalian Keselamatan Migas (TIPKM) periode 2026–2027 pada Rabu (1/4). Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemerintah resmi menetapkan TIPKM periode terbaru melalui Keputusan Menteri ESDM pada Februari 2026.
Meski diwarnai kekhawatiran, Ditjen Migas tetap memberikan apresiasi atas kinerja TIPKM periode sebelumnya. Noor Arifin menyebut kontribusi tim tersebut signifikan dalam memperkuat fondasi keselamatan migas nasional.
“Kontribusi nyata TIPKM telah menjadi bagian penting dalam roadmap membudayakan keselamatan migas,” ujarnya.
Selama 2024–2025, TIPKM mencatat sejumlah capaian strategis. Di antaranya penyusunan pedoman penilaian Sistem Manajemen Keselamatan Migas (SMKM), kebijakan penghargaan keselamatan migas, hingga penerbitan Atlas Keselamatan Migas Volume 5 sebagai referensi industri.
Namun capaian tersebut belum mampu sepenuhnya meredam risiko di lapangan—yang justru menunjukkan tren sebaliknya.
Momentum pembahasan rencana kerja ini pun menjadi semakin krusial, terlebih TIPKM akan memasuki dua dekade kiprah sejak dibentuk pada 2008. Di tengah kompleksitas operasi migas yang kian meningkat dan keterbatasan anggaran, pemerintah berharap sinergi semakin diperkuat.
“Saya menaruh harapan besar agar kita dapat terus bekerja lebih keras lagi,” kata Noor.
Sementara itu, Ketua TIPKM Waluyo menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang kembali diberikan kepada timnya. Namun ia juga menyampaikan refleksi tajam terhadap kondisi keselamatan migas saat ini.
“Ilmunya banyak, tapi kok tahun kemarin masih banyak kecelakaannya,” ujarnya lugas.
Menurutnya, peran TIPKM selama ini lebih banyak berada pada ranah penguatan pengetahuan dan pengaruh kebijakan. Sementara implementasi tetap berada di tangan pelaku usaha migas.
“Tantangan kita bagaimana meyakinkan supaya mereka bisa berjalan dengan baik,” katanya.
Waluyo menegaskan, TIPKM hadir sebagai mitra strategis Ditjen Migas dalam mendorong terwujudnya budaya keselamatan yang lebih substansial—bukan sekadar formalitas.
“Bukan sekadar checklist atau compliance, tapi benar-benar membangun budaya keselamatan yang hidup,” ujarnya.
Dengan latar meningkatnya angka kecelakaan, rencana kerja TIPKM 2026–2027 kini memikul ekspektasi besar: menjembatani kesenjangan lama antara aturan dan praktik, sekaligus memastikan keselamatan menjadi budaya, bukan sekadar kewajiban.


