Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) menggelar Webinar Bulan K3 Nasional Subsektor Migas Tahun 2026 pada Kamis (19/02), sebagai bagian dari rangkaian peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional 2026.
Mengusung tema “Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Nasional yang Profesional, Andal dan Kolaboratif”, forum ini menjadi ruang refleksi serius atas meningkatnya angka kecelakaan kerja di sektor migas sepanjang 2025.
Direktur Teknik dan Lingkungan Migas, Noor Arifin Muhammad, menyebut tren kenaikan insiden tersebut sebagai “alarm keras” bagi seluruh pelaku usaha migas.
Menurutnya, tantangan industri saat ini bukan hanya mengejar target produksi, tetapi memastikan keselamatan menjadi prioritas utama tanpa mengorbankan keandalan operasi demi ketahanan energi nasional.
“Tantangan bagaimana kita menyeimbangkan antara keselamatan yang harus kita jadikan first priority, sekaligus menjamin produksi migas tetap andal dan perform sehingga target yang kita canangkan bersama dapat tercapai,” tegas Noor, dikutip dari website Migas.
Merespons kondisi tersebut, Ditjen Migas kembali menegaskan tujuh prioritas keselamatan yang sebelumnya telah disampaikan pada 19 Januari 2026.
Pertama, membangun budaya keselamatan yang kuat di seluruh level organisasi, mulai dari manajemen puncak hingga pekerja dan mitra kerja.
Kedua, memastikan manajemen risiko—dari job safety analysis hingga mitigasi bahaya—dipahami dan dijalankan sebelum pekerjaan dimulai.
Ketiga, memperkuat implementasi Contractor Safety Management System (CSMS) sejak tahap pengadaan hingga pelaksanaan pekerjaan.
Keempat, menunjuk personel yang kompeten dan berkualifikasi untuk melakukan inspeksi keselamatan pada kegiatan pemboran sebelum operasi dimulai.
Kelima, memastikan setiap pekerjaan mitra kerja diawasi oleh pengawas keselamatan yang kompeten.
Keenam, mewajibkan investigasi seluruh kecelakaan untuk menemukan akar masalah (root cause) dan menyebarkan pembelajaran kepada seluruh pekerja sebagai lesson learned.
Ketujuh, memastikan seluruh pekerja memahami Top Ten Risk perusahaan, mulai dari tools & equipment, line of fire, hot work, working at height, hingga land transportation.
Noor menegaskan, forum ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk menginternalisasi amanat keselamatan ke dalam strategi operasional perusahaan.
“Pastikan operasi migas kita memenuhi kaidah Andal, Aman, dan Akrab Lingkungan,” pungkasnya.
Senada dengan regulator, Ketua Perkumpulan Ahli Keselamatan dan Keteknikan Migas Indonesia (PAKKEM), Achmad Dahlan, menegaskan bahwa Bulan K3 tidak boleh dimaknai sebagai agenda satu bulan semata.
“Bulan K3 ini menjadi pengingat, tetapi bukan berarti K3 berhenti setelah bulan ini. Tahun 2026 harus menjadi Tahun K3,” ujarnya.
Ia mengakui, statistik keselamatan 2025 menunjukkan jumlah insiden yang masih tinggi, baik kategori mayor maupun non-katastrofik. Tantangan terbesar, menurutnya, ada pada pengelolaan kontraktor, mengingat lebih dari 85 persen insiden melibatkan aktivitas kontraktor.
Karena itu, penguatan tata kelola kontraktor melalui CSMS dinilai sebagai kunci menekan angka kecelakaan.
“Kita harus operate safely dan produce safely. Jika tidak bisa berproduksi dengan aman, lebih baik tidak berproduksi. Produksi dan keselamatan berada di detik yang sama,” tegas Dahlan.
Webinar yang digelar kolaboratif antara Ditjen Migas dan PAKKEM ini menghadirkan sejumlah narasumber dari regulator dan praktisi keselamatan migas.
Paparan pertama mengenai Budaya Keselamatan Migas disampaikan oleh Inspektur Migas Madya, Onne Aswin Alamsyah. Sementara sesi kedua membahas Contractor Safety Management System oleh Amalia Rais Marson dari PT Medco E&P Indonesia.
Melalui sinergi regulator dan asosiasi profesi ini, diharapkan ekosistem pengelolaan K3 nasional semakin profesional, andal, dan kolaboratif—serta mampu menekan angka kecelakaan kerja di subsektor migas sepanjang 2026.
Tahun ini, pesan yang digaungkan jelas: produksi penting, tetapi keselamatan adalah harga mati.


