Amboi! Tak Pulang Saat Nataru, Pasukan ‘Rompi Merah’ Pertamina Drilling Kawal 38 Rig

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Di saat sebagian besar masyarakat menikmati momen liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru), denyut nadi operasi pengeboran minyak dan gas bumi (migas) PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling) justru tak berhenti berdetak.

Demi menjaga ketahanan energi nasional, anak usaha Pertamina ini memastikan operasionalnya tetap berjalan penuh selama 24 jam. Tercatat, sebanyak 38 rig milik Pertamina Drilling terus beroperasi di berbagai penjuru nusantara, mulai dari Regional 1 hingga Regional 4.

Tak main-main, ribuan pekerja diterjunkan untuk mengawal misi vital ini. Total terdapat lebih dari 3.400 kru yang rela tidak libur dan tetap siaga di lokasi pengeboran (site) selama masa pergantian tahun.

Direktur Utama Pertamina Drilling, Avep Disasmita, menegaskan bahwa suasana libur akhir tahun bukan menjadi alasan untuk melonggarkan ikat pinggang keselamatan. Sebaliknya, kewaspadaan justru ditingkatkan.

“Menjelang akhir dan pergantian tahun, kami meningkatkan kewaspadaan serta pengawasan terhadap seluruh aktivitas operasi. Pertamina Drilling memastikan seluruh kegiatan tetap berjalan aman, selamat, dan terkendali dengan pengawasan melekat yang konsisten,” ujar Avep dalam keterangannya.

Untuk mengawal operasi ini, perusahaan telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Nataru. Satgas ini bertugas melakukan pengawasan ketat terhadap 38 rig yang memiliki spesifikasi beragam, mulai dari kapasitas 150 horse power (HP) hingga rig raksasa berkapasitas 1.500 HP. Rata-rata, setiap rig diawaki oleh sekitar 90 personel yang bekerja dalam sistem pengamanan berlapis.

Strategi Operasi: Hindari Risiko Tinggi

Manajemen Pertamina Drilling juga menerapkan strategi khusus agar operasi berjalan mulus tanpa gangguan (Zero Accident). Salah satu langkah kuncinya adalah pengaturan jadwal kegiatan yang selektif. Selama masa libur Nataru, perusahaan menghindari aktivitas non-rutin yang bersifat kritikal atau berisiko tinggi.

Selain itu, kesiapan peralatan tanggap darurat menjadi harga mati. Kesiapan Emergency Response Organization (ERO) disiagakan di seluruh level, mulai dari tim di lokasi (Site Emergency Response Team), manajemen insiden (Incident Management Team), hingga dukungan bisnis (Business Support Team).

“Keselamatan adalah prioritas utama,” tegas Avep.

Tak hanya fokus pada mesin dan teknis, aspek manusia juga menjadi perhatian. Perusahaan memastikan seluruh pekerja dan kontraktor dalam kondisi fit-to-work serta menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Langkah strategis ini menjadi bukti komitmen Pertamina Drilling dalam menutup tahun dengan kinerja operasi yang andal, sekaligus memastikan roda pasokan energi bagi masyarakat Indonesia tetap berputar lancar di tahun baru.