Antisipasi Gangguan Pasokan Timur Tengah, SKK Migas Dorong Seluruh Crude Dalam Negeri Diolah di Kilang Nasional

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com– Pemerintah melalui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mendorong agar minyak mentah produksi dalam negeri sebanyak mungkin diolah di kilang domestik. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi terganggunya pasokan minyak mentah impor dari kawasan Timur Tengah.

Ketika ruangenergi.com bertanya kepada Kepala SKK Migas Djoko Siswanto langkah apa yang akan diambil guna antisipasi  situasi geopolitik di kawasan Teluk yang berpotensi memengaruhi kelancaran pengiriman minyak mentah, Djoko menjawab begini:

“Sedapat mungkin semua crude diolah di dalam negeri,” ujar Djoko dalam bincang santai virtual bersama ruangenergi.com, Selasa (10/3/2026).

Menurut Djoko, Indonesia hingga saat ini masih mengimpor minyak mentah dari sejumlah negara di kawasan Timur Tengah untuk memenuhi kebutuhan kilang nasional. Karena itu, setiap potensi gangguan distribusi di jalur perdagangan utama minyak dunia perlu diantisipasi sejak dini.

Salah satu risiko yang menjadi perhatian adalah kemungkinan terganggunya pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu choke point terpenting bagi perdagangan minyak global.

Jika jalur tersebut mengalami gangguan, maka pasokan minyak mentah dari negara-negara Teluk yang selama ini menjadi sumber impor bagi banyak negara, termasuk Indonesia, berpotensi terdampak.

Djoko menegaskan, optimalisasi pengolahan crude domestik di kilang nasional merupakan bagian dari upaya menjaga ketahanan energi nasional. Dengan memaksimalkan pasokan dari produksi dalam negeri, ketergantungan terhadap impor dapat ditekan ketika terjadi gangguan pasokan global.

Selain itu, kebijakan tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan utilisasi kilang dalam negeri sekaligus memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) tetap terjaga bagi kebutuhan masyarakat dan sektor industri.

“Ini langkah antisipatif agar pasokan energi kita tetap aman,” kata Djoko.