Awal Tahun, SKK Migas Gaspol: Produksi Dijaga, Investasi Didorong

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) langsung tancap gas di awal 2026. Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menegaskan komitmen kuat menjaga produksi migas nasional sekaligus mendorong masuknya investasi baru di sektor hulu.

Dalam paparannya pada Jumat (2/1/2026), Djoko menyampaikan bahwa tahun 2026 menjadi fase krusial bagi industri hulu migas nasional. Tantangannya tidak ringan, namun peluang tetap terbuka lebar jika dikelola dengan kolaborasi dan disiplin eksekusi.

“Fokus kita jelas: menjaga keberlanjutan produksi, mempercepat eksplorasi, dan memastikan proyek-proyek strategis berjalan sesuai rencana,” ujar Djoko, seperti diceritakan kepada ruangenergi.com

Menurutnya, SKK Migas bersama kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) telah menyiapkan langkah-langkah antisipatif untuk menghadapi penurunan alamiah produksi (natural decline), mulai dari optimalisasi lapangan eksisting hingga percepatan pengembangan temuan baru.

Djoko juga menekankan pentingnya eksplorasi sebagai kunci masa depan energi nasional. Ia mendorong KKKS agar lebih agresif namun tetap prudent dalam menjalankan kegiatan eksplorasi, termasuk di wilayah-wilayah prospektif yang selama ini belum tergarap optimal.

“Tanpa eksplorasi, kita hanya bicara jangka pendek. Yang kita kejar adalah kesinambungan,” tegasnya.

Dari sisi investasi, SKK Migas berupaya menjaga iklim usaha tetap kondusif. Penyederhanaan proses, kepastian regulasi, serta sinergi dengan kementerian dan pemerintah daerah menjadi agenda utama agar proyek hulu migas tidak terhambat di lapangan.

Djoko juga mengingatkan bahwa industri hulu migas memiliki peran strategis dalam menopang ketahanan energi nasional, terutama di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.

“Kita harus bekerja lebih cepat, lebih efisien, dan lebih solid. Hulu migas tetap menjadi tulang punggung energi nasional,” ujarnya.

Menutup paparannya, Djoko mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan 2026 sebagai tahun kerja nyata. Bukan sekadar target di atas kertas, melainkan capaian yang benar-benar dirasakan manfaatnya bagi negara.