B40 Sakti! RI Hemat Rp 130 Triliun, Impor Solar Langsung Anjlok Drastis

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Kabar segar datang dari sektor energi nasional. Mimpi Indonesia untuk mandiri energi dan lepas dari ketergantungan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar semakin dekat menjadi kenyataan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, dengan bangga memaparkan keberhasilan program mandatori biodiesel B40 (campuran 40% minyak sawit dan 60% solar) yang terbukti ampuh menekan angka impor solar sepanjang tahun 2025.

Dalam konferensi pers capaian kinerja Kementerian ESDM tahun 2025 di Jakarta, Kamis (8/1/2026), Bahlil membeberkan data penurunan impor yang cukup signifikan.

“Saya bersyukur bahwa impor solar kita di tahun 2024 itu masih kurang lebih sekitar 8,3 juta ton. Kemudian impor kita di tahun 2025 turun menjadi kurang lebih 5 juta ton,” ujar Bahlil.

Hemat Devisa Ratusan Triliun Keberhasilan ini bukan sekadar klaim. Data Kementerian ESDM mencatat pemanfaatan biodiesel domestik sepanjang Januari-Desember 2025 menembus 14,2 juta Kilo Liter (kL). Angka ini melampaui target (overachieved) sebesar 105,2% dari patokan awal 13,5 juta kL.

Dampaknya ke kantong negara pun tak main-main. Kebijakan ini sukses menghemat devisa negara hingga Rp130,21 triliun. Tak hanya itu, nilai tambah CPO menjadi biodiesel menyumbang Rp20,43 triliun, serta memberikan napas lega bagi lingkungan dengan pengurangan emisi sebesar 38,88 juta ton CO2 ekuivalen.

Target 2026: Stop Impor Total Berbekal capaian manis di 2025, Pemerintah kini memasang target ambisius: Menghentikan sepenuhnya impor Solar pada tahun 2026.

Bahlil mengungkapkan dua “senjata rahasia” untuk mencapai target tersebut:Program B50: Uji coba biodiesel dengan campuran 50% sawit ini dijadwalkan rampung pada semester pertama 2026. Jika mulus, semester kedua langsung tancap gas. Kilang RDMP Balikpapan: Beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur, akan mendongkrak kapasitas produksi Solar dalam negeri secara masif.

“Kalau B50 kita pakai dan RDMP kita di Kalimantan Timur diresmikan dalam waktu dekat, maka kita tidak akan melakukan impor solar lagi di tahun 2026,” tegas Bahlil optimistis.

Kendati demikian, pemerintah tetap membuka sedikit celah impor secara terbatas, namun hanya khusus untuk Solar CN51 (kualitas tinggi) bagi kebutuhan industri alat berat. Hal ini dikarenakan kapasitas produksi domestik untuk spesifikasi tersebut masih dalam tahap pengembangan.