Samarinda, Kaltim, ruangenergi.com — Aktivitas transportasi sungai di jalur strategis Samarinda–Melak–Mahakam Ulu kembali menggeliat. Penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis solar untuk kapal angkutan penumpang dan barang kini kembali berjalan, membuka harapan baru bagi kelancaran mobilitas masyarakat sekaligus pemulihan aktivitas ekonomi kawasan hulu Kalimantan Timur.
Dari total 23 kapal yang beroperasi di jalur tersebut, sebanyak 22 kapal dipastikan segera kembali melayani masyarakat dengan dukungan fasilitas BBM solar subsidi. Kehadiran kembali pasokan energi ini dinilai krusial, mengingat transportasi sungai menjadi urat nadi distribusi barang dan mobilitas warga di wilayah pedalaman.
Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Wahyudi, menegaskan bahwa proses pemenuhan administrasi kapal terus dipercepat. Bersamaan dengan itu, PT Pertamina Patra Niaga sebagai Badan Usaha Penugasan telah siap melayani pengisian BBM subsidi bagi kapal yang telah ditetapkan melalui keputusan BPH Migas.
Sebelumnya, 13 kapal telah dinyatakan dapat beroperasi kembali. Dokumen pendukung telah dikirim oleh Dinas Perhubungan Kalimantan Timur ke Direktorat Jenderal Perhubungan Darat sebelum diteruskan ke BPH Migas untuk proses persetujuan. Upaya ini dilakukan guna memastikan pelayanan transportasi masyarakat dapat segera normal kembali.
Sementara itu, sembilan kapal lainnya juga berada di tahap akhir pemenuhan administrasi. Dokumen kapal yang telah lengkap dijadwalkan disampaikan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat kepada BPH Migas, dengan target persetujuan dapat diterbitkan hanya dalam waktu satu hari setelah dokumen diterima lengkap.
Penyaluran BBM subsidi solar sendiri hanya diberikan kepada kapal yang memiliki izin operasi serta sertifikat keselamatan yang masih berlaku. Kebijakan ini diberlakukan untuk menjaga keselamatan pelayaran, memastikan kepastian layanan transportasi sungai, sekaligus menjamin subsidi energi tepat sasaran.
Dalam kunjungan lapangan di Dermaga Mahakam Ulu, Wahyudi menekankan pentingnya percepatan proses administrasi. Ia bahkan menghadirkan langsung Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Timur untuk memastikan proses pengunggahan data dan dokumen kapal dapat segera diselesaikan.
Selain meninjau dermaga, rombongan BPH Migas juga mengunjungi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Bunker (SPBB) Samarinda. Di lokasi tersebut, mereka menyaksikan langsung pengisian BBM subsidi untuk KM Barokah 08 yang melayani rute Samarinda–Melak. Kapal tersebut mengisi sekitar 2.200 liter solar, jumlah yang dibutuhkan untuk satu perjalanan pulang-pergi.
Dengan kembali tersedianya BBM subsidi, pemerintah berharap pelayanan transportasi masyarakat, baik untuk angkutan barang maupun penumpang, dapat berjalan lancar. Pemerintah juga menegaskan bahwa subsidi energi harus disalurkan tepat sasaran, tepat manfaat, dan tepat guna bagi masyarakat yang berhak.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Timur, Yusliando, mengapresiasi kehadiran langsung BPH Migas di Samarinda. Menurutnya, langkah cepat ini menjadi sinyal kuat keseriusan pemerintah dalam menyelesaikan kendala distribusi BBM subsidi.
Ia berharap tidak ada lagi gangguan pasokan BBM subsidi ke depan, sehingga aktivitas ekonomi di wilayah Kutai Barat dan Mahakam Ulu dapat kembali stabil, termasuk menjaga harga kebutuhan pokok tetap terkendali.
Yusliando juga mengingatkan para pemilik kapal untuk memastikan kelengkapan dokumen administrasi. Tanpa dokumen yang valid, kapal tidak akan mendapatkan akses BBM subsidi.
Kunjungan lapangan ini turut dihadiri Anggota Komite BPH Migas Baskara Agung Wibawa, Eman Salman Arief, dan Harya Adityawarman, Direktur BBM BPH Migas Soerjaningsih, Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Isfahani, serta perwakilan Dinas Perhubungan Kota Samarinda.
Dengan kembali beroperasinya kapal-kapal transportasi sungai, masyarakat di sepanjang aliran Mahakam kini dapat bernapas lega. BBM subsidi tak hanya menjadi energi bagi mesin kapal, tetapi juga menjadi bahan bakar bagi roda ekonomi masyarakat pedalaman Kalimantan Timur.
Kalau mau, saya bisa buat versi lebih tajam (headline media nasional), lebih naratif storytelling, atau versi siaran pers resmi.













