Bukan Sekadar Tren, Pertamina Group Pacu Standar Global Demi Gaet Investor Hijau

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Pertamina Group kembali menunjukkan taringnya di kancah global. Bukan hanya soal produksi energi, raksasa migas pelat merah ini kini fokus membenahi “dapur” pelaporannya agar sesuai selera investor internasional.

Langkah ini ditegaskan dalam ajang Sustainability Transcendence Forum (STF) Series #5 di Grha Pertamina, Rabu (15/1). Seluruh jajaran pimpinan Pertamina Group sepakat “satu suara” untuk mengadopsi standar global International Financial Reporting Standards (IFRS) S1 dan S2, yang di Indonesia dikenal sebagai Pernyataan Standar Pengungkapan Keberlanjutan (PSPK).

Bagi Pertamina, ini bukan sekadar urusan administrasi atau menggugurkan kewajiban. Ini adalah strategi “hidup-mati” perusahaan untuk memastikan bisnis tetap cuan dan relevan di masa depan.

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, menyebut bahwa isu keberlanjutan (sustainability) kini sudah menjadi “bahasa wajib” bagi para pemodal dunia.

“Standar pelaporan yang kredibel adalah jembatan yang menghubungkan kinerja hijau dengan kinerja keuangan. Ini akan memperkuat kepercayaan investor dan membuka akses Pertamina terhadap pembiayaan hijau dengan biaya modal yang lebih efisien,” tegas pria yang akrab disapa Iwan Bule tersebut.

Senada dengan Iriawan, Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menekankan pentingnya transparansi. Ia berharap manajemen risiko dan keputusan investasi bisa berjalan dalam “satu napas” dengan aspek keberlanjutan.

Direktur Keuangan Pertamina, Emma Sri Martini, punya ambisi lebih besar. Ia ingin Pertamina menjadi role model bagi BUMN lain dalam penerapan standar ini. Menurutnya, pola pikir harus diubah: dari sekadar patuh aturan (compliance) menjadi penciptaan nilai (value creation).

“Ini adalah investasi untuk masa depan Pertamina Group,” ujar Emma optimis.

Pernyataan ini mendapat “lampu hijau” dari pakar. Ketua Dewan Pengawas Standar Keberlanjutan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Rosita Uli Sinaga, memuji langkah progresif Pertamina yang tidak lagi melihat keberlanjutan sebagai beban biaya (cost), melainkan peluang bisnis.

“Dengan laporan yang transparan, Pertamina memiliki keunggulan kompetitif untuk meraih pendanaan internasional,” tutur Rosita.

Keseriusan ini bukan sekadar wacana. Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis, Agung Wicaksono, menegaskan bahwa komitmen para bos Pertamina ini akan segera diturunkan menjadi program nyata di lapangan.

Pertamina menetapkan target ambisius: Implementasi penuh PSPK harus sudah berjalan pada 1 Januari 2027.

Acara pun ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama oleh seluruh Direksi dan Komisaris Pertamina Group. Tanda tangan ini menjadi simbol bahwa Pertamina siap bertarung di pasar energi global yang makin ketat dan menuntut transparansi hijau.