Bukti “Lahan Tua” Masih Perkasa, Mustang Hitam Discovery Hydrocarbon, Mantap!

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Pekanbaru, Riau, ruangenergi.com-Kabar gembira kembali datang dari salah satu wilayah kerja migas paling produktif di Indonesia, Blok Rokan. PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) secara resmi mengonfirmasi penemuan cadangan hidrokarbon (minyak) baru di Sumur Mustang Hitam (MTH)-001.

Sumur eksplorasi yang berlokasi di Desa Libo Jaya, Kabupaten Siak, Provinsi Riau ini dinyatakan sebagai discovery setelah melalui serangkaian evaluasi ketat dan uji produksi yang rampung pada awal tahun 2026.

Penemuan ini menjadi bukti nyata bahwa Blok Rokan, yang sering disebut sebagai wilayah kerja mature (tua), masih menyimpan potensi besar jika digarap dengan teknologi dan sudut pandang geologi yang baru.

Vice President Exploration PHR Regional 1, Suprayitno Adhi Nugroho, menyambut positif temuan ini. Menurutnya, keberhasilan di Mustang Hitam memberikan sinyal optimis untuk pengembangan lanjutan di Cekungan Sumatra Tengah (Central Sumatra Basin).

“Sumur MTH-001 telah mengonfirmasi keberadaan hidrokarbon pada Formasi Menggala dan Formasi Pematang URB. Meskipun laju produksi awal masih tergolong rendah, discovery ini membuka peluang pengembangan lebih lanjut,” ujar Suprayitno.

Ia menambahkan bahwa temuan ini membuktikan bahwa eksplorasi dengan play baru (konsep geologi baru) berupa perangkap stratigrafi masih sangat menjanjikan.

Perjalanan menuju penemuan ini tidak instan. Berikut ringkasan prosesnya:

  • Pengeboran Awal: Dimulai 4 September 2025 menggunakan Rig PDSI 52.3 berkapasitas 750 HP.

  • Kedalaman Akhir: Pengeboran mencapai kedalaman 6.464 ftMD (sekitar 1.970 meter) pada 26 September 2025.

  • Uji Produksi: Dilakukan menggunakan Rig BMS-007 mulai 5 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026. Hasil inilah yang memvalidasi adanya cadangan minyak.

Menjadi catatan penting di sini, salah satu keunggulan utama dari Sumur MTH-001 adalah lokasinya yang sangat strategis. Sumur ini dikelilingi oleh fasilitas produksi yang sudah ada (existing facility), yaitu: 3 km dari Lapangan Oki. 4 km dari Lapangan Kokoh. 6 km dari Gathering Station (GS) Libo.

Kedekatan jarak ini memungkinkan PHR melakukan sinergi fasilitas, sehingga biaya pengembangan lapangan ke depannya bisa jauh lebih efisien dan cepat.

Tidak ingin membuang waktu, PHR kini tengah bergerak cepat menyusun strategi agar temuan ini segera bisa dimonetisasi.

“Tim eksplorasi dan pengembangan sedang menyiapkan skenario Produksi Awal (POPE) agar discovery ini dapat segera dimonetisasi secara optimal,” jelas Suprayitno.

Langkah ini menegaskan komitmen PHR untuk terus melakukan eksplorasi yang agresif namun tetap prudent (hati-hati) demi menjaga pasokan energi nasional dan mendukung target produksi migas Indonesia.