Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bergerak cepat menangani dampak insiden kebakaran pipa gas milik PT Transgasindo (TGI) yang terjadi baru-baru ini. Insiden ini bukan sekadar masalah teknis pipa, melainkan ancaman serius bagi target produksi minyak (lifting) nasional tahun ini.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas), Laode Sulaeman, menegaskan bahwa proses pemulihan harus dilakukan sesegera mungkin. Pasalnya, gangguan ini berdampak langsung pada operasi Blok Rokan, salah satu tulang punggung produksi minyak Indonesia.
Meski belum merilis angka kerugian secara rinci, Laode memastikan bahwa dampaknya cukup signifikan. Saat ini, Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) ESDM tengah melakukan kalkulasi mendalam untuk menghitung jumlah pasti kekurangan produksi minyak akibat insiden tersebut.
“Angkanya nanti diumumkan di Pusdatin. Ya, untuk awal tahun itu perlu kita pulihkan. Karena nanti berdampak pada proyeksi akhir tahun (lifting) kita yang 610.000 (barel per hari). Jadi kita harus buru-buru agar pipa ini segera bisa tersambung,” ujar Laode.
Laode menjelaskan efek domino dari insiden yang terjadi pada Jumat sore (2/1) di jalur pipa Grissik Duri (GD) KP222, Desa Batu Ampar, Indragiri Hilir, Riau tersebut.
Pipa TGI memiliki peran vital sebagai penyuplai gas untuk pembangkit listrik di wilayah kerja Rokan. Listrik inilah yang menjadi ‘nyawa’ bagi ribuan mesin pompa angguk yang menyedot minyak dari perut bumi.
“TGI ini menyuplai gas untuk pembangkitan listrik wilayah-wilayah di Rokan. Banyak mesin pompa angguk di sana yang dibangkitkan dengan listrik, dan gasnya dari pipa ini. Ini harus segera kita selesaikan,” tegasnya.
Kekhawatiran pemerintah sangat beralasan. Blok Rokan bukan sekadar ladang minyak biasa, melainkan kontributor utama produksi minyak nasional. Produksi Rata-rata: Sekitar 150.000 barel per hari. Kontribusi Nasional: Menyumbang lebih dari 20% dari total produksi minyak Indonesia (sekitar 600 ribuan barel per hari).
Jika pemulihan pipa TGI melambat, potensi kehilangan produksi harian akan semakin besar, yang pada akhirnya akan mempersulit Indonesia mengejar target lifting nasional sebesar 610.000 barel per hari di akhir tahun nanti.













