Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Pemerintah menegaskan sikap tidak main-main dalam upaya mengejar target produksi gas nasional sebesar 12 BSCFD pada tahun 2030. Demi memuluskan jalan terjal menuju target tersebut, Pemerintah kini tengah memacu agar pengembangan Coal Bed Methane (CBM), khususnya di Blok Tanjung Enim, segera ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).
Langkah agresif ini disampaikan dalam acara Penandatanganan Perjanjian Kolaborasi (Collaboration Agreement) antara NuEnergy Gas Limited dan PT Beijing Energy Linking (PT BEL) di Hotel JW Marriott Jakarta, Kamis (8/1/2025).
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Peningkatan Produksi dan Lifting Migas, Nanang Abdul Manaf, mewakili Dirjen Migas, menjelaskan bahwa penetapan status PSN bukan sekadar label. Status ini adalah kunci untuk membuka berbagai kemudahan krusial di lapangan.
Dengan masuknya Blok Tanjung Enim sebagai PSN, proyek ini diharapkan mendapatkan:Dukungan lintas sektor yang jauh lebih kuat. Percepatan perizinan yang seringkali menjadi hambatan. Kemudahan penggunaan lahan untuk mempercepat operasional.
“Kolaborasi ini diharapkan menjadi katalis terbentuknya CBM Hub di Sumatera Selatan untuk menjamin aliran gas domestik yang berkelanjutan dan mendukung swasembada energi dalam transisi energi bersih,” papar Nanang, dikutip dari website MIGAS.
Momentum Investasi USD 200 Juta
Keseriusan ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari pencapaian besar di akhir tahun lalu. Nanang mengingatkan kembali momen bersejarah pada 17 Desember 2025, di mana Gas Sales and Purchase Agreement (GSA) pertama untuk CBM di Indonesia berhasil diteken.
“Penandatanganan ini menjadi momentum lanjutan dengan nilai kontrak mencapai USD 200 juta,” tegasnya. Hal ini membuktikan bahwa potensi gas metana batu bara di Indonesia bukan lagi sekadar wacana, melainkan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi.
Sinergi Teknologi dan Jaminan bagi Investor
Kerja sama antara NuEnergy dan PT BEL (didukung oleh BJEI dan Envision Group) dinilai strategis karena membawa standar operasional terbaik (best practices) lewat transfer teknologi pengeboran, serta membuka potensi kolaborasi finansial.
Merespons dukungan pemerintah, Tan Sri Datuk Seri Panglima Goh Tian Chuan, Group Executive Chairman of Globaltec Formation Berhad, menyampaikan apresiasinya namun tetap menyoroti tantangan klasik proyek migas.
“Seperti semua proyek skala besar, akuisisi tanah dan persetujuan lisensi terkait sangat penting. Kami sungguh-sungguh meminta Pemerintah untuk terus memberikan panduan,” ujarnya.
Menjawab hal tersebut, Pemerintah melalui Ditjen Migas menjamin pintu diskusi akan selalu terbuka untuk mengatasi hambatan teknis maupun regulasi, demi memastikan investasi tetap aman, menarik, dan memberikan efek domino ekonomi bagi masyarakat Sumatera Selatan.













