Catatan Redaksi: Alangkah Naifnya, Potensi Besar Migas dan Tambang Terganjal Pungli Recehan

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Angin segar berembus dari Istana Negara. Presiden Prabowo Subianto baru saja menyampaikan pesan optimisme sekaligus peringatan keras bagi sektor energi nasional. Pernyataan itu, diberikan saat persemian Proyek RDMP di Balikpapan, Kalimantan Timur, 12 Januari 2026 lalu.

Kepala Negara meyakini bahwa “harta karun” berupa cadangan minyak dan gas bumi (migas) Indonesia sejatinya masih sangat besar. Potensi ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan aset nyata yang menunggu untuk dikelola demi kemakmuran rakyat.

Namun, potensi besar itu tidak akan bermakna apa-apa tanpa eksekusi yang cepat dan bersih. Presiden secara khusus meminta Kementerian ESDM untuk bergerak taktis memperluas eksplorasi. Tapi, ada satu catatan tebal yang digarisbawahi oleh Prabowo: Hilangkan budaya pungutan liar.

Instruksi ini sangat relevan dan menohok jantung permasalahan di lapangan. Kita semua paham, memulai sebuah eksplorasi di sektor migas, tambang, maupun panas bumi adalah bisnis yang penuh ketidakpastian (high risk). Fase awal, seperti survei seismik—baik 2 dimensi maupun 3 dimensi—adalah pertaruhan modal yang masif dengan risiko kegagalan yang membayangi, bersanding tipis dengan peluang keberhasilan.

Alangkah naifnya jika di tahap yang penuh risiko ini, para pelaku usaha sudah “kena palak”. Belum juga bor menyentuh tanah, belum juga seismik tuntas, mereka sudah direpotkan dengan “kutip-kutip” di depan. Uang harus keluar dengan pelbagai alasan administratif maupun non-teknis yang tidak masuk akal. Ini adalah racun bagi iklim investasi.

Dunia saat ini sedang berlomba. Global sedang “lapar” akan temuan potensi migas, mineral, dan batubara untuk menopang kebutuhan energi masa depan. Jangan sampai rasa lapar dunia itu terganggu oleh birokrasi yang koruptif.

Ibarat seseorang yang hendak menyendok nasi ke mulut karena lapar, tiba-tiba selera makannya hilang karena melihat ada semut di dalam nasi tersebut. “Semut-semut” pengutip inilah yang harus dibersihkan. Jangan biarkan mereka merusak hidangan besar investasi yang sedang kita sajikan.
Tugas kita sekarang adalah menjaga momentum ini.

Mari ciptakan iklim investasi yang memberikan kenyamanan, ketentraman, ketertiban, dan rasa aman. Rumusnya sederhana: Jika investor merasa nyaman dan aman, mereka pasti betah berlama-lama menanamkan modalnya di Republik Indonesia yang kita cintai ini.

Perintah Presiden sudah jelas. Sekarang, bola ada di tangan para pelaksana di lapangan: Permudah, jangan dipersulit. Kelola, jangan dipalak.

Godang Sitompul, Pemimpin Redaksi