Bitung, Sulawesi Utara-Rabu (7/1/2026) menjadi hari yang sibuk di Integrated Terminal Bitung, Sulawesi Utara. Namun, di tengah hiruk-pikuk evaluasi pasca-libur panjang, suasana di fasilitas vital Pertamina tersebut terasa jauh dari kaku. Sumber kehangatan itu datang dari sosok Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas.
Mengenakan kemeja putih yang digulung rapi dan memakai rompi bertuliskan BPH Migas dibelakang punggungnya, Wahyudi tampak berjalan dengan langkah ringan dan penuh energi. Wajahnya ceria, menyiratkan kepuasan atas kerja keras tim Satgas Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang baru saja usai. Tidak ada gurat kelelahan, meski ia baru saja menempuh perjalanan jauh ke ujung utara Sulawesi untuk memantau langsung “denyut nadi” energi di wilayah kepulauan tersebut.
Bagi Wahyudi, kunjungan kerja bukan sekadar inspeksi satu arah. Ia dikenal sebagai sosok yang gemar berdiskusi, menggali solusi lewat obrolan hangat dengan mitra kerjanya. Hal itu terlihat jelas saat ia berdiri berdampingan dengan Komisaris PT Pertamina (Persero), Condro Kirono, dan Direktur Pemasaran Regional PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky.
Di sela-sela peninjauan tangki timbun, Wahyudi tampak antusias bertukar pikiran. Sesekali ia tersenyum, mengangguk mendengarkan penjelasan teknis, lalu menimpali dengan perspektif regulasi yang solutif. Chemistry antara regulator dan operator ini begitu kental, mengubah pertemuan formal menjadi diskusi kemitraan yang cair.
Semangat Mengawal Angka
Saat sesi doorstop dengan media,yang juga dihadiri ruangenergi.com langsung di TBBM Bitung, semangat Wahyudi kian terpancar ketika memaparkan data. Baginya, angka-angka statistik bukan sekadar laporan, melainkan bukti pelayanan kepada masyarakat.
“Avtur naik 5,5 persen! Ini artinya masyarakat kembali terbang, ekonomi bergerak,” ujarnya dengan nada optimistis. Ia juga dengan fasih merinci kenaikan BBM jenis gasoline sebesar 0,9 persen dan penurunan gasoil 2,4 persen karena kepatuhan pembatasan logistik.
Sikap terbuka dan suportif Wahyudi ini mendapat apresiasi tulus dari mitra diskusinya, Condro Kirono. Komisaris Pertamina itu mengakui bahwa Wahyudi bukan tipe pejabat yang kaku pada aturan saat kondisi mendesak.
“Kami di holding merasakan betul support beliau. Sinergitas ini terasa nyata, terutama saat Bitung menghadapi cuaca ekstrem. Beliau memberikan kelonggaran regulasi agar kami bisa tetap menyalakan genset dan melayani warga,” ujar Condro, yang disambut senyum ramah Wahyudi.
Empati untuk Sumatera, Fokus Menuju Ramadan
Di balik keceriaannya, Wahyudi tetap menyimpan ketegasan dan empati yang mendalam. Obrolannya dengan Eko Ricky bergeser ke topik serius: pemulihan bencana di Sumatera. Dengan penuh perhatian, Wahyudi memastikan kebijakan relaksasi penyaluran BBM di Aceh dan Sumatera Barat diperpanjang hingga 8 Januari 2026.
“Kita berikan kemudahan. Masyarakat yang kena bencana harus pulih, akses energi tidak boleh putus,” tegasnya, menunjukkan sisi kebapakan yang mengayomi.
Belum kering keringat dari Nataru, Wahyudi sudah mengajak mitra-mitranya untuk “tancap gas” lagi. Diskusinya langsung melompat ke persiapan Ramadan dan Idul Fitri (RAFI) 2026. Ia tidak ingin lengah. “Kita persiapan bersama, build up stock dari sekarang,” katanya penuh semangat kepada jajaran Pertamina Patra Niaga.
Hari itu di Bitung, Wahyudi Anas menunjukkan bahwa pengawasan energi tidak harus dilakukan dengan wajah garang. Dengan senyum, semangat tinggi, dan rangkulan persahabatan kepada mitra kerja, ia memastikan roda energi Indonesia terus berputar kencang, dari Nataru hingga Lebaran nanti.













