Dari Dapur Sederhana ke 2 Ton Kue Lebaran: Berkah Ramadan Mengangkat Zulaikhah Cake

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com-Di sebuah gang yang tak terlalu lebar di Kecamatan Bukit Intan, aroma mentega dan gula yang karamellisasi menyeruak sejak pagi. Dari balik pintu rumah produksi itu, loyang demi loyang keluar masuk oven. Ramadan baru memasuki pekan kedua, namun dapur Zulaikhah Cake sudah berdenyut seperti jantung yang dipacu lebih kencang dari biasanya.

Bagi banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Ramadan selalu menjadi musim panen. Pesanan kue kering dan kue basah melonjak tajam, menyusul tradisi masyarakat Indonesia menyambut Idulfitri dengan suguhan terbaik di meja tamu. Namun di Pangkalpinang, Bangka Belitung, berkah itu terasa berlipat bagi Zulaikhah (42).

“Kalau omzet lebaran meningkat sangat pesat dari kue kering dan kue basah. Ini peningkatannya bisa 17 kali lipat atau lebih dari 1.000 persen dari omzet bulanan kita yang biasa,” ujarnya sambil tetap mengawasi adonan yang sedang diaduk.

Usaha ini ia rintis pada 2012 dengan modal seadanya, Rp25 juta. Saat itu, dapurnya hanya dibantu beberapa peralatan sederhana. Dalam sehari, produksi masih bisa dihitung dengan jari. Kini, menjelang Lebaran, kapasitas produksinya menembus 1,5 hingga 2 ton kue kering.

Jika hari biasa ia mempekerjakan sekitar tujuh orang, maka pada musim Ramadan jumlah itu melonjak menjadi 20 hingga 30 pekerja. Tetangga, kerabat, hingga ibu rumah tangga sekitar turut terlibat, mengemas kue ke dalam toples-toples bening yang siap dikirim ke berbagai kota di Indonesia.

Di sela kesibukan itu, Zulaikhah mengingat betul fase naik-turun usahanya selama 14 tahun terakhir. Ada masa ketika pesanan seret, bahan baku mahal, hingga arus kas yang tersendat. Namun ia bertahan.

Perjalanan usahanya mulai menemukan pijakan lebih kokoh ketika bergabung sebagai UMKM binaan PT Timah Tbk (TINS), anggota Holding Industri Pertambangan MIND ID.

Sekitar tujuh hingga delapan tahun lalu, ia mulai menerima dukungan permodalan, pelatihan pemasaran dan manajemen, hingga bantuan alat produksi seperti mixer. Baginya, tambahan alat itu bukan sekadar mesin, tetapi pengungkit kapasitas produksi.

Tak hanya itu, ia juga rutin diajak mengikuti bazar dan pameran di berbagai kota. “Dari PT Timah kami sempat diajak bazaar ke Jakarta, di Bandung juga pernah. Jadi sekarang pembelinya juga sudah dari berbagai kota di Indonesia,” katanya dengan mata berbinar.

Dukungan modal, menurutnya, menjadi penopang utama terutama menjelang Lebaran. Harga bahan baku seperti tepung, mentega, dan telur kerap naik saat permintaan meningkat. Tanpa suntikan dana yang cukup, produksi bisa tersendat di saat permintaan justru memuncak.

“UMKM ini memang butuh bantuan modal untuk produksi, apalagi sebelum Lebaran. Harapannya ke depan bisa ada tambahan plafon pinjaman supaya usaha kami bisa terus berkembang,” ujarnya.

Kisah Zulaikhah Cake bukan sekadar cerita tentang kue kering yang laris manis. Di baliknya, ada rantai ekonomi kecil yang bergerak: pekerja harian yang mendapat tambahan penghasilan, pemasok bahan baku lokal yang kecipratan pesanan besar, hingga jasa pengiriman yang sibuk mengantar paket ke luar daerah.

Apa yang terjadi di dapur sederhana itu menjadi gambaran bagaimana penciptaan nilai tambah tak selalu berbentuk hilirisasi industri besar. Di tingkat akar rumput, nilai tambah hadir ketika UMKM tumbuh, menyerap tenaga kerja, dan memperluas pasar.

Melalui dukungan permodalan, pelatihan, dan akses pasar, UMKM binaan holding industri seperti MIND ID diharapkan tidak hanya naik kelas secara bisnis, tetapi juga memperluas dampak sosial di sekitarnya.

Ramadan mungkin hanya datang sekali setahun. Namun bagi Zulaikhah dan puluhan pekerjanya, musim ini adalah pengingat bahwa dari dapur rumahan pun, kesejahteraan bisa dipanggang—pelan, konsisten, dan penuh harapan.