Takengon, Aceh, ruangenergi.com – Langit di atas pegunungan Aceh Tengah tampak sendu pada Sabtu sore itu. Jarum jam menunjukkan pukul 14.00 WIB, dan suhu udara menyentuh 18 derajat Celcius. Hawa dingin menusuk tulang, sisa-sisa hujan dan banjir yang baru saja meluluhlantakkan sebagian wilayah Aceh masih terasa pekat.
Namun, di sebuah halaman rumah warga yang sederhana, kehangatan mulai menjalar. Bukan dari matahari, melainkan dari kehadiran “pasukan biru” dan spanduk kuning cerah bertuliskan: Bantuan 1.000 Genset dari Menteri ESDM.
Di tengah lumpur dan puing yang tersisa, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (Ditjen Gatrik) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hadir menunaikan janji negara. Sebanyak 14 personel tim inti diterjunkan langsung ke lapangan, menembus medan sulit demi satu tujuan: memastikan cahaya kembali menyala di rumah-rumah warga yang terdampak bencana.
Operasi pemulihan ini bukan sekadar pengiriman barang, melainkan sebuah strategi logistik yang terukur. Menyadari luasnya dampak banjir, Kementerian ESDM menetapkan tiga lokasi strategis sebagai landing point atau pusat distribusi utama bantuan genset:
* Takengon: Sebagai hub untuk menjangkau wilayah dataran tinggi tengah yang aksesnya seringkali terputus.
* Banda Aceh: Pusat distribusi untuk wilayah ujung barat dan sekitarnya.
* Lhokseumawe: Titik sentral untuk menyuplai bantuan ke pesisir timur dan utara Aceh.
“Kami membagi tiga titik ini agar distribusi ke desa-desa penerima bisa lebih cepat. Saat jaringan listrik utama (grid) masih dalam perbaikan pasca banjir, genset ini adalah napas pertama untuk penerangan dan kebutuhan dasar warga,” ujar salah satu pejabat ESDM yang enggan disebut namanya di lokasi bencana bercerita kepada ruangenergi.com, Minggu (04/01/2026).
Foto yang diabadikan pada Sabtu (3/1/2026) menjadi saksi bisu gerak cepat pemerintah. Di lokasi dengan koordinat 4.60 LU dan 96.61 BT tersebut, tampak tim Kementerian ESDM berdiri bahu-membahu dengan warga lokal.
Tidak ada sekat birokrasi, yang ada hanya gotong royong.
Satu unit Genset Inverter TSUZUMI berwarna biru yang diletakkan di tengah mereka bukan sekadar mesin. Bagi warga desa yang terisolir, mesin itu adalah harapan. Ia adalah alat yang akan menghidupkan pompa air bersih, mengisi daya alat komunikasi untuk mengabarkan kondisi terkini kepada kerabat, dan menerangi malam yang sebelumnya dicekam gelap gulita.
“Bantuan ini langsung menyebar dari titik kumpul ke desa-desa. Kami tidak menunggu lama, karena kami tahu satu jam tanpa listrik dalam kondisi bencana rasanya seperti seharian,” tambah petugas lapangan.
Langkah Ditjen Gatrik Kementerian ESDM yang turun langsung dengan kekuatan penuh ini menegaskan bahwa di tengah bencana, negara tidak pernah absen. Dari Takengon, Banda Aceh, hingga Lhokseumawe, deru mesin genset kini mulai terdengar, perlahan mengusir gelap dan membawa optimisme bahwa Aceh akan segera bangkit kembali.













